Laila Ramdhini 210110080015
Carla Isati Octama 210110080059
a. Industri dan Aktivitas Jurnalisme di Masa Depan
Masa depan dapat diprediksi dari apa yang terjadi di masa ini, begitu pula dengan masa depan jurnalisme. Saat ini, industri dan aktivitas jurnalisme berkembang pesat, mulai dari media cetak, elektronik, hingga media online. Informasi yang disajikan selalu up to date, hal ini dikarenakan semakin canggihnya teknologi yang mempermudah para jurnalis dalam mendapatkan, mengolah, serta menyebarkan berita.
Industri jurnalisme masa depan akan lebih didominasi dengan industri media elektronik maupun media online. Media cetak memang masih memegang peranan penting, karena media inilah media paling tua dalam penyebaran informasi. Namun, karena material utama media cetak adalah kertas yang semakin sulit untuk didapatkan akibat penebangan liar, maka pemakaian kertas akan berkurang, begitu juga percetakan koran. Saat ini banyak industri media cetak yang gulung tikar akibat oplah mereka tidak dapat menutupi biaya produksi. Masa depan pun sepertinya kejadian seperti itu akan terulang kembali, hanya sedikit industri media cetak yang bertahan, banyak orang yang beralih ke e-paper.
Sebaliknya, industri media online akan berkembang pesat karena media ini sangat mudah diakses melalui gadget seperti laptop dan smartphone. Selain itu, dari segi pendapatan, media online akan jauh mengalami peningkatan dibandingkan media cetak karena pemasang iklan (advertising) lebih memilih untuk beriklan di media online. Pasalnya, iklan yang dimuat di media online menawarkan fitur yang menarik karena lebih interaktif dengan pengaksesnya dibandingkan pada media cetak.
Aktivitas jurnalisme juga akan semakin mudah dengan adanya teknologi yang berkembang pesat. Dengan adanya teknologi ini, hadirlah tren citizen journalism, dimana masyarakat dapat menyampaikan dan menyebarkan informasi melalui perantara sosial media.
Citizen journalism membawa perubahan besar, dimana masyarakat yang dulu tidak memiliki suara, sekarang suara mereka dapat didengar. Kita juga mendapatkan beberapa hal dari citizen journalism ini, keaslian informasi dari saksi mata, kontinuitas perhatian sebuah cerita, dan verifikasi melalui sumber orang banyak. Hal ini juga didukung oleh kecendrungan masyarakat yang sudah jenuh dengan professional journalism yang kurang mendengar suara mereka.
Dengan hadirnya tren tersebut juga pekerjaan penting yang biasa dilakukan wartawan, seperti mengumpulkan, menganalisis, dan menyebarkan informasi, telah mulai bermigrasi ke web dan ke tempat lain.
Di sisi lain, citizen journalism bisa menjadi bumerang ketika kita hanya mengandalkan sumber-sumber informasi aktual tanpa memperahtikan nilai-nilai berita yang lain. Tidak semua warga negara memiliki keahlian seorang jurnalis profesional, yang selama bertahun-tahun belajar tentang subyek dan sumber-sumber yang dapat dipercaya. Dalam citizen journalism, kita mungkin kehilangan konteks verifikasi, transparansi, perasaan mandiri, dan gaung besar media mainstream. Namun. Menurut Hume, mungkin untuk mengganti beberapa fungsi jurnalisme tradisional dengan sumber daya media baru, yang dapat membangun arsip online yang besar, mengumpulkan dari terus mengembangkan sumber, memvisualisasikan data dalam menangkap cara, dan terlibat penggunanya.
Hal ini tidak semua buruk, karena kita mendapatkan jurnalisme partisipatif, di mana pengguna dapat saling menanggapi dan bertukar informasi. Pengguna yang tergugah oleh berita memiliki kesempatan untuk bereaksi melalui jaringan sosial, video, blog. Hal ini dapat menciptakan ‘rasa baru' dalam pertukaran arus informasi.
Citizen journalism memang akan menjadi tren yang akan terus berkembang, namun professional journalism tetap saja diperlukan di dunia jurnalisme. Proffesional journalism diperlukan untuk menjaga keaktualitasan serta verifikasi data yang berimbang. Citizen journalism memang mengandalkan sisi keaktualitasan, tetapi informasi bukan hanya tentang aktual, masih banyak nilai berita lainnya yang harus ada agar berita tersebut informatif sekaligus menarik, dan inilah yang dilakukan oleh professional journalism.
Jika citizen journalism ini terus berkembang, khususnya melalui media online, maka kehadiran media konvensional seperti media cetak akan ‘tersingkirkan’ secara perlahan. Maka, akan lebih ideal jika professional journalism dan citizen journalism dapat berjalan seiringan agar dapat saling mengontrol dan melengkapi.
b. Peran Sosial Media terhadap Penyebaran Informasi dan Aktivitas Jurnalisme
Seiring dengan perkembangan teknologi, khususnya di bidang komunikasi, semakin memudahkan jurnalis dalam menjalankan tugas jurnalistiknya. Berbagai macam sosial media yang ada saat ini, seperti facebook, twitter, skype, yahoo messenger, youtube, dan lainnya tidak hanya berperan sebagai wadah individu untuk bersosialisasi dengan individu lainnya di dunia maya, namun peran sosial media ini lebih dari itu. Dengan berbagai fitur yang ada, semua itu dapat dimanfaatkan dalam pencarian, pengumpulan, pengolahan, serta penyebaran informasi. Semua aplikasi sosial media tersebut berada dalam satu laptop yang dapat diakses oleh jurnalis dimana saja dan kapan saja, hal ini adalah kemudahan yang sangat berarti bagi dunia jurnalisme, asalkan jurnalis tahu dengan benar jenis aplikasi apa yang akan digunakan untuk menghasilkan sebuah berita.
Mengapa sosial media ini akan sangat berperan dalam dunia jurnalisme? Seperti yang kita ketahui, internet membuat kita memiliki berbagai akses kemana saja ke seluruh penjuru dunia. Akses ini dapat kita manfaatkan untuk mencari informasi, namun tidak semua informasi dapat kita pergunakan. Inilah peran pertama dari sosial media, seperti facebook dan twitter, yang memfilter berbagai informasi yang ada di web.
Contohnya penggunaan hashtag pada twitter. Dengan pemfilteran ini, jurnalis dapat ,mencari topik yang ia inginkan dan mengembangkan informasi yang kita dapatkan. Contohnya adalah Aaron Lazenby, DJ Pirate Cat Radio, yang menscanning di twitter suatu malam dengan trending topic #iranelection. Betapa terkejutnya ia mendapatkan berbagai informasi tentang pemilihan Iran dari twitter orang-orang Iran, dan semalaman ia membaca semua info di subject hashtag. Keesokan harinya, ia bertemu dengan reporter pemenang Pulitzer yang sama sekali tidak ‘ngeh’ dengan apa yang terjadi di Iran, berita protes tersebut tidak diliput oleh berita mainstream. Lazenby, melihat kesempatan untuk memberitakan berita ini di acara radionya. Ia mengontak salah satu akun twitter sumbernya, yang bersedia untuk diwawancara melalui skype untuk acara radio Lazenby.
Dari contoh kasus diatas, dapat terlihat bahwa melalui sosial media seperti twitter, jurnalis dapat selalu memantau berbagai hal yang menjadi ide topik yang dapat menjadi informasi penting. Seperti kutipan Brain Dresher, manager of social media and digital partnerships at USA TODAY, “I think the most vital [aspect of the] tool is the engagement with the audience. To not participate in conversations that are taking place or to avoid monitoring trends is going to result in lost opportunities. [By keeping up with Twitter], journalists are able to take a trend they first spot on Twitter and the real-time Internet and continue to develop it in more detail.” Menurut Dresher, amat penting untuk memiliki keterikatan dengan khalayak, jurnalis dapat memantau topik yang sedang hangat dibahas oleh khalayak.
Selain itu, dengan sosial media pun jurnalis pun dapat melakukan wawancara telpon kepada narasumber tanpa harus takut dengan pulsa yang membengkak karena kecanggihan teknologi skype.
Salah satu elemen penting dari berita adalah pernyataan dari narasumber. Dengan kehadiran sosial media, maka semakin mempermudah jurnalis dalam mencari narasumber yang tepat dan menghubunginya. Dengan bantuan facebook dan twitter, dimana penggunanya mencapai 400 juta orang, pengguna dapat dicari berdasarkan klasifikasi nama, umur, pekerjaan, network, dan sebagainya. Dalam hal ini, facebook bagaikan buku telepon virtual modern, dengan foto dan biografi.
Selain itu, dengan adanya sosial media tentu saja penyebaran informasi juga akan semakin mudah. Sekarang ini, masyarakat cenderung mengetahui sebuah informasi dari akun jejaring sosial mereka. Hal ini juga didukung oleh tren citizen journalism, dimana setiap orang bebas untuk mengabarkan informasi yang mereka ketahui tanpa perlu untuk menjadi wartawan. Dengan sosial media ini, suara yang tidak didengar mendapatkan kesempatan untuk didengar. Dengan sosial media, berita yang baru atau sedang terjadi bisa langsung dikabarkan tanpa harus menunggu keesokan harinya di media cetak.
Seperti pada kasus jatuhnya meteorid di Jakarta Timur. Berita paling pertama datang berasal dari sosial media seperti twitter dan facebook, dan terus berkembang menjadi topik yang hangat di bicarakan di dua jejaring sosial tersebut.
Sosial media memegang peranan penting dalam penyebaran informasi dan aktivitas jurnalisme. Mungkin bisa saja sosial media menjadi media yang sejajar atau bahkan lebih dipercaya dibandingkan media cetak maupun elektronik karena kecepatannya mengabarkan berita serta kemudahan untuk mengaksesnya. Namun, yang paling penting adalah bagaimana kita memanfaatkan sosial media sebagai alat yang mempermudah kita mengumpulkan informasi serta menambah kekayaan informasi kita.
0 Response to "Perkembangan Dunia Jurnalisme di Masa Depan"
Posting Komentar