Film, Sutradara dan Perempuan

Perempuan itu bernama Giok Lian, seorang anak Indonesia yang di adopsi oleh keluarga Belanda di zaman penjajahan. Setelah bertahun-tahun, ia kembali ke Indonesia untuk menemukan jati diri dan keluarga kandungnya. Ternyata sejarah keluarganya pun begitu rumit, ibunya seorang Ca-Bau-Kan, Tinung dan ayahnya adalah saudagar dari Semarang bernama Tan Peng Lian yang berniat menguasai perdagangan di Jakarta. Keluarganya pun terlibat banyak permasalahan, mulai dari permasalahan ibunya sebagai seorang Ca-Bau-Kan yang dicari oleh banyak pria hingga persoalan ayahnya dalam perdagangan dan terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Itulah sinopsis dari film Ca-Bau-Kan, karya sutradara Nia Dinata tahun yang diputar dalam rangkaian roadshow International Film Festival di Bandung (26/5). Selain karya Nia Dinata, masih banyak karya sutradara perempuan yang diputar, seperti Perempuan dan Syariat Islam, sebuah rangkaian 6 film pendek, bagaimana syariat Islam dijalankan di kedua negara tersebut dan apa dampaknya bagi perempuan di dua negara muslim, Indonesia dan Malaysia. Ada juga film karya Nirit Pelet yang meraih penghargaan Full Frame Documentary Film Festival dan South by Southwest Film Festival, Say My Name, dokumenter yang mengajak penonton untuk menikmati kebudayaan dan musik hiphop, seta perjuangan para musisi hiphop perempuan mengejar cita-cita mereka di hiphop yang didominasi laki-laki, juga menghadapi dunia realitas mereka di komunitas urban yang ras dan miskin.
Dunia film yang selama ini didominasi oleh laki-laki pun ternyata sudah mulai memberi tempat bagi perempuan. Perempuan yang biasanya dulu sebagai aktris pemeran utama kini bisa merambah ke belakang layar.  Bahkan, selama 82 tahun Oscar berlangsung, baru sekali nama sutradara perempuan terpilih sebagai sutradara terbaik, Katryn Bigelow untuk film The Hurt Locker. Katryn Bigelow berhasil mengalahkan manatan suaminya, James Cameron, yang menyutradarai film spektakuler Avatar.
Katryn Bigelow

Masih bisa terhitung dengan jari festival film yang memberi tempat tersendiri bagi sutradara perempuan untuk menunjukkan eksistensinya, sebut saja San Fransisco Women’s Film Festival, St.John’s International Women’s Film Festival, dan Women’s Film Festival. V Film Festival ini pun merupakan festival film perempuan pertama di Asia Tenggara.
V Film Festival sendiri merupakan festival film yang dipelopori oleh empat lembaga yang concern terhadap perempuan, Kartini Asia, Kalyana Shira Foundation, Komunitas Salihara, serta Yayasan Jurnal Perempuan pada akhir 2008. Pada tahun ini, mereka kembali mengadakan V Film Festival bekerja sama dengan berbagai kedutaan dan pusat kebudayaan luar negeri, seperti Swiss, Goethe, Erasmus, dan CCF.
Ridla An-Nuur S., coordinator secretariat V Film Festival

Ridla An-Nuur S., coordinator secretariat V Film Festival, menjelaskan, “V Film memilih prespektif perempuan karena kita ingin memberikan sebuah ruang khusus bagi sutradara perempuan yang memiliki talenta dan kualitas film yang baik namun tidak bisa memutarkan filmnya karena berbagai halangan. Ini adalah cara kita untuk mensupport mereka agar terus berkarya,” jelasnya.
Walaupun pihak V Film Fest memang tidak memutarkan film-film dari sutradara laki-laki karena beralasan ingin memberikan tempat khusus bagi sutradara perempuan yang memiliki talenta dan kualitas yang baik, namun tahun depan V Film Festival akan membuka section khusus dimana akan diputar film dari sutradara laki-laki yang menyoroti dunia perempuan.  Hal ini tentu saja akan memberikan sudut pandang yang berbeda untuk perempuan itu sendiri. (Carla Isati Octama - 210110080059)

photo Katryn Bigelow by google.com
photo Ridla An-Nuur S. by Carla Isati Octama

Jangan Takut Bikin Film!

Pengen bikin film sendiri dengan budget minim dan peralatan sederhana? Bisa kok!

Seorang sutradara muda yang berhasil dengan film The Conductor dan Romeo Juliet, Andi Bachtiar Yusuf, pernah bilang, “Filmmaking is just simple, but making a simple film is difficult”.

Butuh ide segar untuk membuat film yang berbeda dengan film-film mindstream yang banyak beredar saat ini.
Namun, jangan pula menuangkan ide tersebut dengan asal-asalan.

Keterbatasan dana dan sumberdaya manusia bukan hambatan bagi kamu untuk membuat sebuah film.
Berikut tahapan-tahapan yang bisa kita lakukan untuk membuat film sendiri, alias film indie.


PRA PRODUKSI

►► Briefing Crew
      Bikin film adalah kerja tim. Jadi, pastinya yang pertama kita lakukan adalah pembentukan tim produksi.
     Biasanya dalam film pendek, pembagian job desk adalah sbb: Produser, Sutradara, Asisten Sutradara, Director Of Photography, Kameramen, Art Director, Make Up Artist, Technical Affair, dan Editor.

►► Story Concept
Dalam tahap ini, seluruh kru dapat menuangkan ide-idenya untuk membuat konsep cerita. Disini dituntut kreativitas dan imajinasi yang tinggi dari seluruh kru. Setelah itu, tentukan satu ide cerita yang terbaik dan masuk akal.

►► Scriptwriting

Example ..

INT. RUANG MAKAN – SIANG HARI - YOLA
Yola yang belum melepas baju seragamnya membawa mie instan yang telah diseduh ke meja makan dan duduk di salah satu kursi yang membelakangi ruang keluarga. Saat akan menyantap mie, tiba–tiba BEL RUMAH BERBUNYI.

YOLA
(menoleh ke arah ruang tamu)
Siapa sih?


►► Survey Lokasi
     Satu hal yang harus kita ingat adalah lokasi juga harus sesuai dengan scene. Ini karena skenario harus bisa divisualisasikan dengan baik ke dalam bentuk gambar.   

►► Talent Scouting
          Tahap talent scouting pada film indie tidak serumit pada proyek film layar lebar atau sinetron. Berikut yang harus diperhatikan:
1. Kesesuaian karakter, sebisa mungkin kita mencari talent yang mampu mewakili karakter yang ada dalam skenario
2. Komitmen, pilihlah talent yang “ikhlas” bekerja dengan kita.  karena dana kita juga msih ‘indie’

►► Casting
     Istilah ini pasti sudah tidak asing bagi kita. Setelah kita mencari talent, maka ini saatnya untuk “mengetest” mereka.

►► Reading
     Setelah talent ditentukan, tahap selanjutnya adalah reading. Dalam tahap ini talent diberi skenario untuk dibaca di depan sutradara dan kemudian diperdalam.

►► Production Schedule
     Produser harus menentukan syuting berlangsung berapa hari, pukul berapa, scene mana yang akan diambil, Jadwal yang dibuat produser juga harus sesuai dan tidak berbenturan dengan seluruh talent dan kru film.

►► Breakdown
     Pada tahap ini kita harus memastikan seluruh tahapan di atas sudah dilakukan dengan baik. Pastikan juga seluruh perlengkapan syuting yang akan digunakan,seperti kamera, tripod, lighting,dll sudah tersedia. Jangan pula menyepelekan persiapan wardrobe, make up, dan properti.


PRODUKSI

►► Time Table
     pada tahap ini kita akan membuat perencanaan syuting yang lebih detil untuk satu hari syuting, mencakup urutan pengambilan gambar, durasi/waktu yang dibutuhkan dalam pengambilan gambar dll.

►► Location Setting
     Seting lokasi mencakup penempatan peralatan dan properti syuting di lokasi syuting. Sutradara harus peka terhadap lokasi syuting serta lingkungan sekelilingnya.

►► Angle Setting
     Pada tahap ini Sutradara dan DOP serta kameramen memegang kendali untuk menentukan titik pengkameraan yang tepat guna terciptanya angle yang sempurna.
    
►► Executions
     Ini adalah tahap menegangkan yang ditunggu-tunggu oleh sineas manapun. Karena pada tahap ini, kata “action” yang diucapkan oleh sutradara sekaligus menandakan proses syuting sudah dimulai.
    

PASCA PRODUKSI

Untuk itu, perlu sebuah finishing touch untuk membungkus film kita sehingga dapat dinikmati oleh orang lain. Caranya adalah dengan mengedit film kita.
Banyak media yang bisa kita gunakan untuk mengedit film. Salah satu yang mudah dan sering digunakan adalah Sony Vegas. Kita dapat memotong adegan, membuat efek suara, gerak, dan menambahkan instrumen musik ke dalam film



Disunting dari Handout Workshop Cinematography Club Fikom Unpad 2008 

Laila Ramdhini
(210110080015)


The Cove : Pembunuhan Massal Lumba-Lumba

Siapa yang tidak gemas melihat tingkah lumba-lumba, siapa pula yang tidak kagum akan kepintarannya? Hewan mamalia keturunan paus ini juga dianggap sebagai sahabat manusia. Banyak nelayan yang merasa aman ketika berlayar dengan diiringi lumba-lumba di samping perahunya, begitu pula dengan peselancar atau snorkeler yang banyak ditolong oleh lumba-lumba saat mendapat ancaman dari ikan ganas seperti paus.
     Cerita mengenai lumba-lumba memang selalu menarik. Film fiksi produksi Warner Bros “Free Willy” dengan tokoh utama lumba-lumba berhasil menarik perhatian masyarakat dunia pada tahun 1993. Kini giliran Ocean Preservation Society (OPS) yang bercerita tentang lumba-lumba melalui film. Bedanya, ini merupakan film dokumnter yang berarti kejadiannya nyata. Selain itu, kita tidak akan menemukan kisah petualangan seru dan menggemaskan mengenai persahabatan lumba-lumba dengan manusia seperti dalam Free Willy. The Cove bercerita tentang pembunuhan masal lumba-lumba di Taiji, Jepang.
     Ric O’ Bary seorang pelatih lumba-lumba yang juga melatih Free Willy mengungkapkan berbagai ‘kezhaliman’ yang dilakukan terhadap lumba-lumba melalui The Cove. Ia bersama Louie Psihogos (OPS founder) dan timnya secara gerilya mencoba merekam kegiatan yang dilakukan para nelayan di teluk kecil bagian barat daya Jepang tersebut. Bagian tepi teluk tersebut dipagari dengan kawat berduri dan berbagai tulisan yang pada intinya berbunyi: “Dilarang Masuk”, “Dilarang Memfoto”, dan “Awas Bahaya”. Namun, dengan berbekal kamera tersembunyi dan berbagai peralatan mereka berhasil menangkap gambar mengenai aktivitas para nelayan dan orang-orang di sekitar teluk tersebut.
     Sebuah potret kebiadaban para penangkar lumba-lumba pun berhasil diabadikan oleh Ric O’ Bary dan timnya. Lumba-lumba yang masih hidup ditangkap untuk dikirim ke berbagai negara seluruh dunia untuk di-akuariumkan, sedangkan sisanya dibunuh untuk dijual dagingnya. Penduduk Jepang di daerah lain seperti Tokyo tidak mengetahui bahkan tidak menyangka adanya ‘aktivitas’ seperti itu di Taiji. Pemerintah mereka memang tidak memiliki undang-undang yang mengatur penangkaran lumba-lumba, dan mengklaim bahwa pengkonsumsian daging lumba-lumba merupakan tradisi bangsanya sejak lama.
Yang jadi permasalahan adalah bagaimana pembunuhan lumba-lumba secara besar-besaran tersebut ‘lolos’ dari perhatian pemerintah Jepang. Dalam film ini disebutkan fakta bahwa sebanyak 23.000 ekor lumba-lumba dibunuh tiap tahunnya di Taiji, bahkan dagingnya yang sebenarnya mengandung racun Mercury diperjual-belikan secara legal. Maka, dunia termasuk negara Jepang merasa ‘tertampar’ dengan adanya film ini. Pada Maret lalu, The Cove berhasil menyabet Piala Oscar 2010 kategori film dokumenter. Selanjutnya, seperti biasa, kontroversi bermunculan terlebih dari pemerintah Jepang yang merasa ‘kecolongan’.

Film Dokumenter Mendebarkan 

Menonton film ini saya merasa mendapatkan pengalaman yang lain. Bukan seperti saat menonton Earth (Alastair Fothergill), Pakubuwono (IGP Wiranegara), atau The Conductors (Andibachtiar), yang di beberapa scene membuat saya bosan dengan visualisasi realita yang ada dan wawancara dengan berbagai orang. The Cove berhasil memacu adrenalin saya seperti “This Is it”.
     Pada film This Is It yang mendokumentasikan perjalanan hidup dan karier Michael Jackson, emosi saya berhasil ‘dipermainkan’, padahal saya bukan fans berat Michael Jackson. Namun, saat menyaksikan film tersebut selama ± 120 menit saya sukses jatuh cinta pada MJ. Sama halnya ketika menonton film The Cove, saya seperti menonton film action-drama, bukan film dokumenter.
     Alur film ini cukup mengasyikan buat saya. Saya bisa merasakan bersahabat dengan lumba-lumba saat diperlihatkan stock shoot lumba-lumba yang berenang sambil salto ke udara, juga saat penyelam-penyelam professional mengaku bahwa dirinya seperti merasakan ikatan yang kuat saat menyelam dan bertemu lumba-lumba. Namun, di tengah-tengah film, tensi dinaikan dengan menampilkan gambar para penangkar yang mengusir paksa (dengan berteriak dan mendorong) peselancar, aktivis peduli perikanan, serta wisatawan yang mendekati teluk. Adegannya persis seperti Satpol PP yang sedang menertibkan pedagang kaki lima pada siaran berita.
     Belum sampai di situ, para pejabat pemerintah Jepang, khususnya dari International Whales Commission (ICW) secara diplomatis menutup-nutupi segala tindakan yang terjadi di Taiji. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Ric O’ Bary dan teman-temannya, secara sembunyi-sembunyi mereka meletakan kamera di bawah laut, di pohon, bahkan di dalam batu buatan. Seperti adegan dalam film Mission Impossible pula mereka mereka diam-diam merekam semua aktivitas di teluk Taiji. Puncak ketegangan film ini disimpan di menit-menit terakhir dengan memunculkan gambar pembunuhan lumba-lumba. Sangat mengerikan. Puluhan lumba-lumba ditusuki dengan besi pengait yang panjang hingga menggelepar kemudian mati. Dan blaarrr.. seluruh air diteluk memerah oleh darah lumba-lumba!
     Film yang cerdas dan sangat menyentuh. Bagi saya film merupakan sebuah media komunikasi yang sangat efektif. Dengan menggabungkan audio dan visual, pesan diharapkan sampai ke penonton dengan mudah. Film bukan hanya sebagai penghibur tapi juga bisa sebagai media pendidik. Saya yakin jika ‘ditangani’ oleh orang yang benar dan ‘dikonsumsi’ secara benar juga, film bisa mencerdaskan sebuah bangsa.


Laila Ramdhini
(210110080015)

Hachiko : Belajar kesetiaan dari Anjing


Film bisa merebut hati penonton salah satunya karena ceritanya merupakan adaptasi dari kisah nyata. Biasanya film-film tersebut bercerita tentang anak yang berjuang melawan penyakit mematikan, perang antar dua negara, atau keluarga yang mempertahankan keutuhannya. Sungguh menyentuh hati.
     Berbeda dengan film ‘based on the true story’ lainnya, Hachiko bercerita tentang kesetiaan seekor anjing kepada majikannya. Tokoh utamanya jelas si anjing, jenis Akita dari Jepang. Film ini merupakan adaptasi dari sebuah kejadian nyata di Jepang, seorang professor yang memiliki anjing Akita (kemudian diberi nama Hachi). Si professor sangat menyayangi anjing tersebut. Saat suatu hari professor meninggal, Hachi tetap menunggunya di stasiun kereta, seperti yang biasa ia lakukan setiap hari. Dan itu berlangsung selama sembilan tahun setelah professor meninggal.
     Film ini diproduksi di Jepang pada tahun 1987 dengan judul Hachiko: Monogatari. Diceritakan bahwa professor Ueno (Tatsuya Nakadai) mendapatkan anjing Akita keturunan asli. Bagi orang Jepang, anjing ini sangat special karena dipercaya sebagai anjing pembawa berkah. Kemudian professor pun merawatnya dengan penuh kasih. Tidak hanya dirinya, orang lain yang bertemu dengan Hachi pun kemudian jatuh hati. Setiap hari professor mengajak Hachi bermain. Dan setiap hari pula Hachi mengantar professor ke stasiun kereta Shibuya untuk pergi bekerja, pun pada sore harinya Hachi kembali menjemput professor di stasiun tersebut tepat pukul lima.
    Suatu hari professor meninggal saat sedang mengajar di suatu perguruan tinggi karena serangan stroke. Hachi merasa sedih dan kehilangan majikannya. Setelah itu, ia pun selalu pergi ke stasiun untuk menunggu majikannya. Semua orang di stasiun heran melihat Hachi yang selalu datang tepat waktu dan diam di pintu gerbang stasiun. Beberapa kali orang-orang menjelaskan bahwa majikannya tidak akan pernah kembali, namun Hachi tetap menunggunya. Hingga sembilan tahun berlalu dan Hachi mati di pintu gerbang stasiun.
Pada 2009, rumah produksi di Hollywood, Delanic Films membuat film ini dengan judul yang sama, Hachiko: The Dog’s story. Dibintangi aktor Amerika yang namanya besar lewat film Pretty Woman dan Chicago, Richard Gere. Tidak jauh berbeda dengan versi Jepangnya, film Hollywood ini mengisahkan professor yang memiliki istri dan satu anak perempuan tersebut memelihara Hachi. Bedanya, Hachi ditemukan di stasiun saat Professor Parker pulang dari bekerja.
     Beberapa teman mengatakan Hachiko Jepang lebih ‘menyentuh’ daripada versi baratnya. Saya setuju soal itu. Namun, ada beberapa hal yang lebih membuat saya nikmat menyaksikan versi Baratnya. Terlepas dari faktor bintang utama Richard Gere yang merupakan idola saya, pada versi barat saya menyukai alur dan detail cerita, serta sinematografi yang bagus. Pada versi aslinya (Jepang) film ini terasa terburu-buru, dengan professor yang diceritakan menyayangi Hachi, namun tidak secara detail digambarkan ‘the way he loves him’. Sebaliknya, di versi barat saya bisa melihat keintiman professor dengan Hachi. Bahasa anak mudanya mungkin ‘lebih nge-flow’. Saya bisa merasakan kesedihan mendalam saat melihat Hachi ditinggalkan professor karena sebelumnya potongan-potongan gambar kebersamaan Hachi dengan professor sudah menjejali pikiran dan hati saya.
     Seperti orang bilang, ‘Lain Tangan Lain Buatan’. Film Hachiko yang dibuat di dua negara dengan perbedaan kultur dan referensi sinematografi, memiliki warna yang berbeda pulan. Tapi toh, kisah nyata dengan berbagai pesan moralnya sama-sama bisa diterima oleh penonton. Betapa mahalnya sebuah ikatan, hingga berbuah kesetiaan sembilan tahun. Dan betapa malunya manusia, jika kesetiaannya pada orang yang disayanginya dikalahkan oleh makhluk Tuhan tak berakal bernama anjing.


Laila Ramdhini
(210110080015)

Diskusi Kreatif Dengan Cin(T)a


“Kenapa Allah nyiptain kita berbeda-beda kalau Ia hanya ingin disembah dengan satu cara?”
“Makanya Allah nyiptain cinta, biar yang beda-beda bisa nyatu.”
Kalimat tersebut merupakan potongan dialog antara Anisa (Saira Jihan) dan Cina (Sunny Soon) dalam salah satu scene di film Cin(T)a. Film ini merupakan film independent (indie) yang berhasil menjebol jaringan bioskop ternama, Blitzmegaplex. Sebelum rilis di Indonesia, Cin(T)a pernah diputar di berbagai Festival Film di London. Dibuat oleh sutradara muda bersama rumah produksi Sembilan Matahari, yang merupakan kumpulan anak muda Bandung beralmamater Institut Teknonologi Bandung (ITB), film ini juga ber-settingkan kampus tersebut.
     Pada Selasa (12/5), Ikatan Alumni Unpad (IKA) bekerja sama dengan Cinematography Club Fikom Unpad mengadakan pemutaran dan diskusi film Cin(T)a. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian acara Unpad Creative Expo yang digelar tanggal 3 – 16 Mei 2010.Unpad Creative Expo sendiri merupakan acara perayaan Dies Natalies Unpad ke-53 sekaligus ulang tahun IKA ke-50. Berbagai acara untuk menampung kreativitas meramaikan Unpad Creative Expo ini. Mulai dari annual meeting, bazaar, talkshow, workshop fotografi dan papercraft, seminar wirausaha, pertunjukan musik tradisional dan modern, juga termasuk pemutaran dan bedah film Cin(T)a. 
     “Berangkat dari ‘keresahan’ masyarakat yang ingin sekali menonton film Cin(T)a sekaligus ingin dapat bedah filmnya, kenapa filmnya harus gini dan gitu,” ungkap Aji (Fikom Unpad, 2007) Ketua pelaksana acara ini, saat ditanya kenapa memilih film Cin(T)a untuk diputar dalam rangkaian Unpad Creative Expo. Acara yang dimulai dari pukul sembilan pagi ini mendapat cukup banyak apreasisasi dari peserta yang hadir, mulai dari mahasiswa hingga pelajar di Kota Bandung.
     Setelah dibuka oleh perwakilan IKA, acara ini dimulai dengan pemutaran film pendek karya Cinematography Club Fikom bertajuk Surya di Padjadjaran. Film Cin(T)a diputar setelahnya, kemudian dilanjut dengan bedah film. Untuk sesi pertama bedah ide dan pra produksi, produser dan sutadara sekaligus penulis skenario, Sonny dan Sammaria menjelaskan proses munculnya ide pembuatan film hingga pembuatan skenario. Di akhir sesi, tiga orang peserta dipersilakan bertanya. Pertanyaan dari peserta cukup kritis terhadap film Cin(T)a sehingga membuat Mbak Sam, begitulah Sammaria akrab disapa, kewalahan menjawabnya. “Saya sendiri tidak sampai kepikiran sejauh itu saat menulis cerita, tapi saya takjub di setiap bedah film peserta mendefinisikan tiap bagian film ini dengan cerdas,” ujarnya.
     Pada sesi kedua, giliran Art Director, Director of Photography, serta editor film Cin(T)a yang memberikan penjelasan tentang tahap produksi dan pasca produksi. Bang Rezki Aditya sebagai Art Director menjelaskan bahwa kebanyakan properti yang digunakan merupakan hasil buatan sendiri. “Sebisa mungkin tidak mengeluarkan biaya, ya kayak lampu itu, terus barang etnik Jawa di kamar Anisa, pinjem semua tuh,” ujarnya. Sedangkan soal sinematografi, Bang Sonny sebagai DOP mengaku dirinya banyak berdiskusi dengan Mbak Sam soal pengambilan gambar. Dalam film ini juga banyak digunakan teknik medium maupun extreme close up. Itu karena yang banyak disorot adalah Anisa dan Cina. “Konsepnya (film ini) kan memang hanya mereka berdua yang ada di kamera, dunia milik kita berdua lah,” tambahnya.
     Diskusi berakhir pukul tiga sore. Semua peserta yang tampak antusias dari awal hingga akhir acara langsung memburu kru film Cin(T)a untuk foto bersama, meminta tanda tangan, dan ada juga yang diskusi soal film. Putri, mahasiswa D3 PAAP Unpad, yang datang sebagai peserta mengaku datang ke acara ini karena sangat tertarik dengan film Cin(T)a dan ingin mengetahui cara pembuatan film ini. “Sempat lihat proses syuting (film) temen sih, abis datang ke sini jadi pengen bikin (film) sendiri deh,” tambahnya. Kalau begitu, tercapai lah tujuan acara Unpad Creative Expo ini. Be Creative, Not Plagiative!


Laila Ramdhini
(210110080015)

Festival ‘Peduli’ Perempuan

“Ladies first”
“Lambat banget jalan lo, kayak cewek!”
“Anak gadis kok pulangnya malam”
Pernyataan tersebut sebenarnya mengangkat derajat wanita atau malah memarjinalkannya? Kaum feminis – para pegiat yang memperjuangkan kesetaraan hak wanita – menyebut pernyataan di atas ‘melemahkan’ perempuan. Menurut mereka, dengan pernyataan dan anggapan yang ada di masyarakat saat ini, perempuan dianggap insan yang lemah dan berada di bawah laki-laki. Maka, banyak dari kaum feminis yang mencoba menghapuskan anggapan umum tersebut.
     Namun, yang akan dibahas di sini adalah geliat perjuangan perempuan melalui film. Sebuah ajang bernama V Film Festival (VFF) tahun ini digelar kembali untuk yang kedua kalinya. Acara yang kali ini bertema Identity and Youth merupakan rangkaian acara, diantaranya seminar, FGD, dan pemutaran film, VFF roadshow ke berbagai kota diantaranya Jakarta, Bali, Malang, Bandung, dan Jogjakarta.

Film-film yang diputar pada V Film Festival ini merupakan film yang dibuat oleh, dari, dan untuk perempuan. maksudnya, film-film tersebut disutradarai oleh perempuan dan bercerita tentang perempuan. Hal tersebut memang merupakan tujuan dari acara ini, yaitu untuk mengapresiasi karya sineas perempuan, selain juga untuk lebih dalam memperlihatkan perspektif tentang perempuan lewat film.
     Roadshow VFF di Bandung digelar selama dua hari di Central Culture de France (CCF), Bandung pada 26–27 Mei 2010 dengan memutar tiga film yaitu Ca Bau Khan (Nia Dinata), Perempuan dan Syariat Islam (Norhayati Kaprawi dan Ucu Agustin, Malaysia) ), dan Say My Name ( Nirid Peled, USA. Beberapa penonton yang hadir diantaranya mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Parahyangan (Unpar), dan beberapa dari komunitas film di Bandung. Sayangnya, di hari pertama pengunjung yang datang hanya berjumlah belasan. “Kita memang bermasalah dengan publikasi kemarin, tapi sudah banyak cara yang dilakukan seperti publikasi lewat poster dan dunia maya,” ujar Ridhla, Ketua bagian kesekretariatan V Film Festival (VFF).
     Terlepas dari hal tersebut, para penonton yang hadir mengaku puas dengan film yang disajikan dan sangat mengapresiasi acara tersebut. Suherni dan Yurika mahasiswa Universitas Parahyangan mengaku sangat antusias dengan berbagai acara pemutaran film, apalagi VFF mengangkat tema perempuan. Mereka juga berharap di Bandung lebih banyak lagi wadah untuk menggali kretivitas dan mengapresiasi karya di bidang film.

Laila Ramdhini
(210110080015)

Popcorn Emas milik New Moon!

Ajang penghargaan film Hollywood MTV Movie Award (MMA) 2010 (6/6) dikuasai oleh Twilight Saga : New Moon. New Moon berhasil menyabet 5 penghargaan dari total 13 penghargaan. Piala berupa pop corn emas itu diberikan pada pemenang yang dipilih melalui hasil voting yang ditutp tanggal 9 April lalu, melibatkan anak muda dari seluruh dunia untuk memvote siapa yang pantas membawa pulang pop corn emas.

Para Pemeran The Twilight Saga : New Moon saat menerima penghargaan Best Movie

Kesuksesan New Moon tahun ini tidak hanya berhasil menyabet penghargaan Best Movie mengalahkan Alice in Wonderland, Avatar, Harry Potter and The Half-Blood-Prince, serta The Hangover. Selain itu, Kristen Stewart dan Robbert Pattinson kembali memenangkan Best Kiss untuk kedua kalinya. Selain itu, mereka juga memenangkan penghargaan Best Female Perfomance dan Best Male Perfomance dalam film yang sama.

MMA tahun ini berlangsung di Gibson Amphitheater, Universal Studios, California, di pandu oleh komedian Anziz Anzhari. Anziz sukses mengocok perut para hadirin dengan menyanyikan lagu yang ia dedikasikan khusus untuk Film Avatar buatan James Cameron. Pada MMA tahun ini, ada beberapa kategori baru, yakni The Global Superstar, Biggest Baddass Star, dan Best Scared-As-S**t Moment.

Penghargaan  MTV Generation, semacam life-time achievement versi MTV, kali in idiberikan kepada Sandra Bullock. Sandra Bullock adalah perempuan pertama yang menerima penghargaan ini setelah sebelumnya pop corn emas jatuh kepada Ben Stiller, Jim Carey, Tom Cruise dan Adam Sandler. Ini adalah penampilan pertama Sandra Bullock pasca berpisah dengan suaminya, Jesse James. Saat menerima penghargaan ini, Sandra membuat kejutan dengan mencium Scarlett Johansson.

MMA kali ini juga dimeriahkan oleh penampilan Katy Perry dengan rambut birunya yang terinspirasi dari kartun Smurf, Snoop Dog, Miike Snow, serta come back nya Christina Aguilera setelah vakum selama 3 tahun. Untuk kalian yang tidak sempat menonton tayangan livenya, jangan lupa untuk menonton tayangannya di Global TV, Minggu, 13 Juni 2010 pkl. 20.45 WIB

Berikut ini daftar pemenang MTV Movie Award 2010 :
Best Movie : The Twilight Saga : New Moon
Best Comedic Perfomance : Zach Galifianakis – The Hangover
Global Superstar : Robbert Pattinson
Best Male Perfomance : Robbert Pattinson –The  Twilight Saga : New Moon
Biggest Baddass Star : Rain – Ninja Assassin
Best Villain : Tom Felton - Harry Potter and The Half-Blood-Prince
Best WTF Moment : Ken Jeong - The Hangover
MTV Generation Award : Sandra Bullock
Best Kiss : Kristen Stewart dan Robert Pattinson - The  Twilight Saga : New Moon
Best Scared-As-Sh**t Perfomance : Amanda Seyfried – Jennifer’s Body
Best Breakout Star : Anna Kendrik – The Up In The Air
Best Female Perfomance : Kristen Stewart - The  Twilight Saga : New Moon
Best Fight : Beyonce Knowles vs. Ali Larter - Obsessed

sumber : www.mtv.com (Carla Isati Octama -210110080059)

Andibachtiar Yusuf : Konsisten yang Paling Penting!

Apa impian kamu? Jadi dokter, arsitek, atau pengusaha? Atau mungkin jadi filmmaker? Nah, untuk kamu yang bercita-cita menjadi filmmaker ataupun yang tertarik dengan dunia sinematografi, ada cerita dan saran menarik dari Andibachtiar Yusuf atau yang biasa di sapa Bang Ucup. Tentu kalian udah tau kan karya-karyanya Bang Ucup seperti Romeo Juliet dan The Conductors? Nah, breakdownsheet berhasil ngobrol-ngobrol dengan Bang Ucup saat beliau menjadi pembicara bedah buku 100+ Fakta Unik Piala Dunia, di Kampus FIKOM Unpad, 14 Mei 2010.



Bang Ucup kan dulu kuliahnya di jurusan Jurnalistik, kenapa sekarang jadi sutradara?
Yah, karena gw ga mau jadi jurnalis, haha

Kenapa ga mau jadi jurnalis bang? Apa karena pekerjaan jurnalis masih dianggap sebelah mata bang?
Sekarang mah gak ada pekerjaan yang gak dianggap sebelah mata, gak ada pekerjaan yang gak dianggap rendah, selain PNS, dokter, arsitek, yang kayak gitu. Yang kayak gini aja (sutradara) malah dianggap rendah.

Dengan berbagai anggapan seperti itu, kenapa abang masih mau menjadi sutradara?
Karena hal yang gw suka film sama bola, makanya gw jadi sutradara juga jadi komentator bola, gw ngerjain dua itu aja.

Mulai kapan Bang Ucup serius ingin jadi sutradara?
Gw waktu itu ketika pengen buat film itu umur 26-27, tapi gw serius umur 29-30, dan gw memutuskan untuk bikin film pas umur 32.

Bagaimana pendapat Bang Ucup tentang generasi muda yang mempunyai hobi bikin film?
Sekarang ditolong dengan banyaknya teknologi. Bikin film pake 5D dan kamera handphone aja bisa. Dulu zaman gw gak ada teknologi digital gitu. Gw belajar film otodidak. Selain itu, sekarang banyak komunitas film juga. Masalahnya kalau udah bikin film terus udah didiemin, gak didistribusiin. Harusnya lo nyari tempat untuk distribusiin film lo, sekarang kan banyak festival film, lewat internet bisa. Komunitas film itu sibuk bikin, tapi gak pernah mikir gimana caranya film bisa muter balik, kan pas bikin film itu ada uang yang harus dikeluarin, pas bikin kan ada uang yang dikeluarin. katakanlah dananya Rp.200.000, berarti harus balik Rp.400.000 biar bisa bikin film lagi.

Saran buat para filmmaker muda apa nih bang?
Orang Indonesia kebanyakan mikir tentang pesan moral yang mau disampaikan, akhirnya mereka malah nyimpen ide filmnya selama bertahun-tahun dan gak direalisasikan. Jadi, kalau mau buat film, yaudah langsung buat aja, gak usah kebanyakn mikir. Lo harus tau apa yang mau lo capai, terus lo bikin, kuat di konten dan juga pendistribusiannya cepet.
Selain itu harus konsisten. Banyak orang yang bikin film itu cuma gaya-gayaan doang. Rata-rata begitu udah lulus, orangtua pasti langsung nyuruh suruh kerja. Orang tua kita kan nyuruh kita nyari duit, tapi apa nyari duit itu bikin kita jadi seneng? Kan engga. Konsisten yang paling penting, dan lo pasti tau ketika lo bikin film, lo bisa ato gak. (Carla Isati Octama - 210110080059)

Pemanasan sebelum Piala Dunia ala Erasmus Huis

Piala Dunia tinggal menghitung hari, dan aura-aura Piala Dunia sudah makin terasa, mulai dari pertokoan yang menjual merchandise Piala Dunia, iklan-iklan, pemutaran ulang pertandingan Piala Dunia sebelumnya, hingga taruhan-taruhan siapa yang bakal jadi juara Piala Dunia. Nah, dari dunia film pun tak mau ketinggalan, Erasmus Huis bekerja sama dengan British Council dan Kineforum Kesenian Jakarta memberikan ‘pemanasan’ bagi para penggemar sepakbola dan juga pecinta film dengan mengadakan Football Film Festival, 3-6 Juni 2010 di Erasmus Huis, Jl. H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta.
Football Film Festival 2010
Football Film Festival yang digelar dari 3-6 Juni yang lalu memutar 14 film bertema sepakbola dari Indonesia, Belanda, dan juga Inggris. Film yang diputar pun tidak hanya yang bergenre fiksi, tetapi juga dokumenter seperti tim kesebelasan Inggris di Piala Dunia 1990 di film One Night in Turin, Maradona, dan juga Johan Cruijff di film En Un Momento Dado.
En Un Momento Dado
Menurut Dr. Katinka van Heeren, Football Film Festival tidak hanya dilaksanakan dalam rangka menyambut Piala Dunia saja. “Sebetulnya di Belanda banyak sekali film bola, ternyata di Indonesia juga banyak, dan kami ingin memperbandingkan antara keduanya. Akhirnya kami juga bekerjasama dengan British Council, kami juga mendapat beberapa film dari Asia, sehingga kita bisa memperbandingkan film-film dari semua negara,”” jelasnya. “Dengan mengambil perspektif ini, dan ditambah dengan momen yang pas, menjelang Piala Dunia, akhirnya festival ini dapat dilaksanakan.” Katinka beranggapan bahwa film-film bola selalu menarik untuk ditonton dan didiskusikan, walaupun tidak bertepatan dengan Piala Dunia sekalipun.
Dr. Katinka van Heeren
Walapun namanya festival film, acaranya tidak hanya memutarkan film-film saja loh! Pada 3 Juni, Andibachtiar Yusuf, sutradara Romeo Juliet datang untuk berdiskusi mengenai dibalik layar filmnya, Jumat, 4 Juni, ada makan malam dan pembukaan “With Football For a Brighter Indonesia” yang dihadiri oleh CEO Liga Indonesia Djoko Driyono, Ketua Komisi Disiplin PSSI Hinca Pandjaitan, juga perwakilan dari Erasmus Huis yang berbicara tentang bagaimana menyambung Indonesia-Belanda dengan bola. Selain itu, tampak pula para pemain sepakbola Indonesia, seperti Bambang Pamungkas, Christian Gonzalez, dan Ricardo Salampessy.
Diskusi RomeoJuliet bersama Andibachtiar Yusuf dan Dr.Katinka
Setelah “With Football For a Brigther Indonesia”, ada nonton bareng film En Un Momento Dado bersama Indonesia All-Stars.  Film dokumenter ini menceritakan perjalanan legenda sepakbola Belanda, Johan Cruijff. Dr. Katinka memberikan pengantar tentang film ini, “Johan Cruijff dia itu sportsman, bukan hanya dalam bola tetapi juga dalam kehidupan pribadinya. Saya harap pemain bola Indonesia, bisa mencontoh dia, bisa mempertahankan sportship bukan hanya di lapangan, tetapi juga diluar lapangan,” jelasnya. Nah, pada 5 Juni ada launching komik “Gilanya Bola” terbitan Cendana Art Media bersama Andibachtiar Yusuf dan Cahyo Widi (kontributor Gilanya Bola).
Bagi kalian semua yang belum sempat datang ke Football Film Festival, jangan kecewa. Football Film Festival masih memiliki rangkaian acara di  Kineforum tanggal 25-27 Juni. “Football At The Neighbours” ini mengangkat tentang sepakbola di wilayah Asia. Beberapa film yang diputar di sana antara lain The Black Meteor, Homeless FC, Can and Slippers dan Sagai United.
 “Film itu adalah fakta yang difiksikan,” ujar Andibachtiar Yusuf. Nah, sebelum kita menonton ‘langsung’ Piala Dunia, tiada salahnya kita pemanasan dengan ‘fakta yang difiksikan’ di Football Film Festival ini :D  (Carla Isati Octama - 210110080059; photo by Carla, except En Un Momento Dado from google.com)