Diskusi Kreatif Dengan Cin(T)a


“Kenapa Allah nyiptain kita berbeda-beda kalau Ia hanya ingin disembah dengan satu cara?”
“Makanya Allah nyiptain cinta, biar yang beda-beda bisa nyatu.”
Kalimat tersebut merupakan potongan dialog antara Anisa (Saira Jihan) dan Cina (Sunny Soon) dalam salah satu scene di film Cin(T)a. Film ini merupakan film independent (indie) yang berhasil menjebol jaringan bioskop ternama, Blitzmegaplex. Sebelum rilis di Indonesia, Cin(T)a pernah diputar di berbagai Festival Film di London. Dibuat oleh sutradara muda bersama rumah produksi Sembilan Matahari, yang merupakan kumpulan anak muda Bandung beralmamater Institut Teknonologi Bandung (ITB), film ini juga ber-settingkan kampus tersebut.
     Pada Selasa (12/5), Ikatan Alumni Unpad (IKA) bekerja sama dengan Cinematography Club Fikom Unpad mengadakan pemutaran dan diskusi film Cin(T)a. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian acara Unpad Creative Expo yang digelar tanggal 3 – 16 Mei 2010.Unpad Creative Expo sendiri merupakan acara perayaan Dies Natalies Unpad ke-53 sekaligus ulang tahun IKA ke-50. Berbagai acara untuk menampung kreativitas meramaikan Unpad Creative Expo ini. Mulai dari annual meeting, bazaar, talkshow, workshop fotografi dan papercraft, seminar wirausaha, pertunjukan musik tradisional dan modern, juga termasuk pemutaran dan bedah film Cin(T)a. 
     “Berangkat dari ‘keresahan’ masyarakat yang ingin sekali menonton film Cin(T)a sekaligus ingin dapat bedah filmnya, kenapa filmnya harus gini dan gitu,” ungkap Aji (Fikom Unpad, 2007) Ketua pelaksana acara ini, saat ditanya kenapa memilih film Cin(T)a untuk diputar dalam rangkaian Unpad Creative Expo. Acara yang dimulai dari pukul sembilan pagi ini mendapat cukup banyak apreasisasi dari peserta yang hadir, mulai dari mahasiswa hingga pelajar di Kota Bandung.
     Setelah dibuka oleh perwakilan IKA, acara ini dimulai dengan pemutaran film pendek karya Cinematography Club Fikom bertajuk Surya di Padjadjaran. Film Cin(T)a diputar setelahnya, kemudian dilanjut dengan bedah film. Untuk sesi pertama bedah ide dan pra produksi, produser dan sutadara sekaligus penulis skenario, Sonny dan Sammaria menjelaskan proses munculnya ide pembuatan film hingga pembuatan skenario. Di akhir sesi, tiga orang peserta dipersilakan bertanya. Pertanyaan dari peserta cukup kritis terhadap film Cin(T)a sehingga membuat Mbak Sam, begitulah Sammaria akrab disapa, kewalahan menjawabnya. “Saya sendiri tidak sampai kepikiran sejauh itu saat menulis cerita, tapi saya takjub di setiap bedah film peserta mendefinisikan tiap bagian film ini dengan cerdas,” ujarnya.
     Pada sesi kedua, giliran Art Director, Director of Photography, serta editor film Cin(T)a yang memberikan penjelasan tentang tahap produksi dan pasca produksi. Bang Rezki Aditya sebagai Art Director menjelaskan bahwa kebanyakan properti yang digunakan merupakan hasil buatan sendiri. “Sebisa mungkin tidak mengeluarkan biaya, ya kayak lampu itu, terus barang etnik Jawa di kamar Anisa, pinjem semua tuh,” ujarnya. Sedangkan soal sinematografi, Bang Sonny sebagai DOP mengaku dirinya banyak berdiskusi dengan Mbak Sam soal pengambilan gambar. Dalam film ini juga banyak digunakan teknik medium maupun extreme close up. Itu karena yang banyak disorot adalah Anisa dan Cina. “Konsepnya (film ini) kan memang hanya mereka berdua yang ada di kamera, dunia milik kita berdua lah,” tambahnya.
     Diskusi berakhir pukul tiga sore. Semua peserta yang tampak antusias dari awal hingga akhir acara langsung memburu kru film Cin(T)a untuk foto bersama, meminta tanda tangan, dan ada juga yang diskusi soal film. Putri, mahasiswa D3 PAAP Unpad, yang datang sebagai peserta mengaku datang ke acara ini karena sangat tertarik dengan film Cin(T)a dan ingin mengetahui cara pembuatan film ini. “Sempat lihat proses syuting (film) temen sih, abis datang ke sini jadi pengen bikin (film) sendiri deh,” tambahnya. Kalau begitu, tercapai lah tujuan acara Unpad Creative Expo ini. Be Creative, Not Plagiative!


Laila Ramdhini
(210110080015)

3 Response to "Diskusi Kreatif Dengan Cin(T)a"

  1. sintamilia says:
    12 Juni 2010 pukul 10.55

    Menurut aku yang benar adalah:
    “Kenapa TUHAN nyiptain kita berbeda-beda kalau Ia hanya ingin disembah dengan satu cara?”

    :p

    but, this is a good post, Laila :bd

  2. Rezki Apriliya says:
    13 Juni 2010 pukul 04.41

    suatu saat saya bakal bikin film yang bisa menyamai keunggulan dan kesuksesan film ini, kalau bisa lebih.
    amiiin...

    Cin(T)a adalah salah satu film indie yang paling saya suka, baik dari segi penceritaan ataupun senimatografinya.

    Bisa jadi motivator nih buat film maker indie lainnya. :D

  3. Desti Pratiwi says:
    14 Juni 2010 pukul 06.05

    aku suka film cin(T)a ini.
    nyata banget di kehidupan sehari2..
    dengan baca ulasannya, aku jadi makin jatuh cinta... :)

Posting Komentar