The Cove : Pembunuhan Massal Lumba-Lumba

Siapa yang tidak gemas melihat tingkah lumba-lumba, siapa pula yang tidak kagum akan kepintarannya? Hewan mamalia keturunan paus ini juga dianggap sebagai sahabat manusia. Banyak nelayan yang merasa aman ketika berlayar dengan diiringi lumba-lumba di samping perahunya, begitu pula dengan peselancar atau snorkeler yang banyak ditolong oleh lumba-lumba saat mendapat ancaman dari ikan ganas seperti paus.
     Cerita mengenai lumba-lumba memang selalu menarik. Film fiksi produksi Warner Bros “Free Willy” dengan tokoh utama lumba-lumba berhasil menarik perhatian masyarakat dunia pada tahun 1993. Kini giliran Ocean Preservation Society (OPS) yang bercerita tentang lumba-lumba melalui film. Bedanya, ini merupakan film dokumnter yang berarti kejadiannya nyata. Selain itu, kita tidak akan menemukan kisah petualangan seru dan menggemaskan mengenai persahabatan lumba-lumba dengan manusia seperti dalam Free Willy. The Cove bercerita tentang pembunuhan masal lumba-lumba di Taiji, Jepang.
     Ric O’ Bary seorang pelatih lumba-lumba yang juga melatih Free Willy mengungkapkan berbagai ‘kezhaliman’ yang dilakukan terhadap lumba-lumba melalui The Cove. Ia bersama Louie Psihogos (OPS founder) dan timnya secara gerilya mencoba merekam kegiatan yang dilakukan para nelayan di teluk kecil bagian barat daya Jepang tersebut. Bagian tepi teluk tersebut dipagari dengan kawat berduri dan berbagai tulisan yang pada intinya berbunyi: “Dilarang Masuk”, “Dilarang Memfoto”, dan “Awas Bahaya”. Namun, dengan berbekal kamera tersembunyi dan berbagai peralatan mereka berhasil menangkap gambar mengenai aktivitas para nelayan dan orang-orang di sekitar teluk tersebut.
     Sebuah potret kebiadaban para penangkar lumba-lumba pun berhasil diabadikan oleh Ric O’ Bary dan timnya. Lumba-lumba yang masih hidup ditangkap untuk dikirim ke berbagai negara seluruh dunia untuk di-akuariumkan, sedangkan sisanya dibunuh untuk dijual dagingnya. Penduduk Jepang di daerah lain seperti Tokyo tidak mengetahui bahkan tidak menyangka adanya ‘aktivitas’ seperti itu di Taiji. Pemerintah mereka memang tidak memiliki undang-undang yang mengatur penangkaran lumba-lumba, dan mengklaim bahwa pengkonsumsian daging lumba-lumba merupakan tradisi bangsanya sejak lama.
Yang jadi permasalahan adalah bagaimana pembunuhan lumba-lumba secara besar-besaran tersebut ‘lolos’ dari perhatian pemerintah Jepang. Dalam film ini disebutkan fakta bahwa sebanyak 23.000 ekor lumba-lumba dibunuh tiap tahunnya di Taiji, bahkan dagingnya yang sebenarnya mengandung racun Mercury diperjual-belikan secara legal. Maka, dunia termasuk negara Jepang merasa ‘tertampar’ dengan adanya film ini. Pada Maret lalu, The Cove berhasil menyabet Piala Oscar 2010 kategori film dokumenter. Selanjutnya, seperti biasa, kontroversi bermunculan terlebih dari pemerintah Jepang yang merasa ‘kecolongan’.

Film Dokumenter Mendebarkan 

Menonton film ini saya merasa mendapatkan pengalaman yang lain. Bukan seperti saat menonton Earth (Alastair Fothergill), Pakubuwono (IGP Wiranegara), atau The Conductors (Andibachtiar), yang di beberapa scene membuat saya bosan dengan visualisasi realita yang ada dan wawancara dengan berbagai orang. The Cove berhasil memacu adrenalin saya seperti “This Is it”.
     Pada film This Is It yang mendokumentasikan perjalanan hidup dan karier Michael Jackson, emosi saya berhasil ‘dipermainkan’, padahal saya bukan fans berat Michael Jackson. Namun, saat menyaksikan film tersebut selama ± 120 menit saya sukses jatuh cinta pada MJ. Sama halnya ketika menonton film The Cove, saya seperti menonton film action-drama, bukan film dokumenter.
     Alur film ini cukup mengasyikan buat saya. Saya bisa merasakan bersahabat dengan lumba-lumba saat diperlihatkan stock shoot lumba-lumba yang berenang sambil salto ke udara, juga saat penyelam-penyelam professional mengaku bahwa dirinya seperti merasakan ikatan yang kuat saat menyelam dan bertemu lumba-lumba. Namun, di tengah-tengah film, tensi dinaikan dengan menampilkan gambar para penangkar yang mengusir paksa (dengan berteriak dan mendorong) peselancar, aktivis peduli perikanan, serta wisatawan yang mendekati teluk. Adegannya persis seperti Satpol PP yang sedang menertibkan pedagang kaki lima pada siaran berita.
     Belum sampai di situ, para pejabat pemerintah Jepang, khususnya dari International Whales Commission (ICW) secara diplomatis menutup-nutupi segala tindakan yang terjadi di Taiji. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Ric O’ Bary dan teman-temannya, secara sembunyi-sembunyi mereka meletakan kamera di bawah laut, di pohon, bahkan di dalam batu buatan. Seperti adegan dalam film Mission Impossible pula mereka mereka diam-diam merekam semua aktivitas di teluk Taiji. Puncak ketegangan film ini disimpan di menit-menit terakhir dengan memunculkan gambar pembunuhan lumba-lumba. Sangat mengerikan. Puluhan lumba-lumba ditusuki dengan besi pengait yang panjang hingga menggelepar kemudian mati. Dan blaarrr.. seluruh air diteluk memerah oleh darah lumba-lumba!
     Film yang cerdas dan sangat menyentuh. Bagi saya film merupakan sebuah media komunikasi yang sangat efektif. Dengan menggabungkan audio dan visual, pesan diharapkan sampai ke penonton dengan mudah. Film bukan hanya sebagai penghibur tapi juga bisa sebagai media pendidik. Saya yakin jika ‘ditangani’ oleh orang yang benar dan ‘dikonsumsi’ secara benar juga, film bisa mencerdaskan sebuah bangsa.


Laila Ramdhini
(210110080015)

5 Response to "The Cove : Pembunuhan Massal Lumba-Lumba"

  1. Dua Petualang says:
    12 Juni 2010 pukul 04.44

    sadis.. :'(
    ke cilacap aja yu lai..tar lw bisa makan ikan sepuasnya deh di sana.. :p

  2. Unknown says:
    12 Juni 2010 pukul 05.20

    hemm.. numpang komen karena kau meminta di facebook.
    film ini bagus di unsur dramatiknya lai, dan mungkin dia menang oscar karena itu. karena kalau dilihat dari segi visual, food inc lebih keren.
    segi dramatik nya itu dilihat dari perubahan sikap Ric yang sebelumnya dia juga menggunakan lumba - lumba sebagai ajang hiburan sampai akhirnya dia menjadi pecinta lumba-lumba. Dan, aksi - aksi di akhir, itu membuat orang jadi terhibur juga.

  3. Rezki Apriliya says:
    13 Juni 2010 pukul 04.41

    Laila....mau pinjem dvd-nya dong.. :D
    Penasaran pengen nonton..

  4. Cinematography and Us says:
    14 Juni 2010 pukul 02.50

    @ Dua Petualangan: oke kapan2 aku kesana yaa :)

    @ mochamad : eh punten ini akun siapa?
    iyaa kereenn bgt, makanya aku bilang ini seperti film action-drama.
    yapp jelas kalo dr visual, soalnya ini cm pake kamera biasa. uwooww :D

    @ Rezki Apriliya : ayoo ke kosan gw :)

  5. Sayabukanpsikopat says:
    14 Juni 2010 pukul 03.38

    sedihh...hikshiks

Posting Komentar