Perempuan itu bernama Giok Lian, seorang anak Indonesia yang di adopsi oleh keluarga Belanda di zaman penjajahan. Setelah bertahun-tahun, ia kembali ke Indonesia untuk menemukan jati diri dan keluarga kandungnya. Ternyata sejarah keluarganya pun begitu rumit, ibunya seorang Ca-Bau-Kan, Tinung dan ayahnya adalah saudagar dari Semarang bernama Tan Peng Lian yang berniat menguasai perdagangan di Jakarta. Keluarganya pun terlibat banyak permasalahan, mulai dari permasalahan ibunya sebagai seorang Ca-Bau-Kan yang dicari oleh banyak pria hingga persoalan ayahnya dalam perdagangan dan terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Itulah sinopsis dari film Ca-Bau-Kan, karya sutradara Nia Dinata tahun yang diputar dalam rangkaian roadshow International Film Festival di Bandung (26/5). Selain karya Nia Dinata, masih banyak karya sutradara perempuan yang diputar, seperti Perempuan dan Syariat Islam, sebuah rangkaian 6 film pendek, bagaimana syariat Islam dijalankan di kedua negara tersebut dan apa dampaknya bagi perempuan di dua negara muslim, Indonesia dan Malaysia. Ada juga film karya Nirit Pelet yang meraih penghargaan Full Frame Documentary Film Festival dan South by Southwest Film Festival, Say My Name, dokumenter yang mengajak penonton untuk menikmati kebudayaan dan musik hiphop, seta perjuangan para musisi hiphop perempuan mengejar cita-cita mereka di hiphop yang didominasi laki-laki, juga menghadapi dunia realitas mereka di komunitas urban yang ras dan miskin.
Dunia film yang selama ini didominasi oleh laki-laki pun ternyata sudah mulai memberi tempat bagi perempuan. Perempuan yang biasanya dulu sebagai aktris pemeran utama kini bisa merambah ke belakang layar. Bahkan, selama 82 tahun Oscar berlangsung, baru sekali nama sutradara perempuan terpilih sebagai sutradara terbaik, Katryn Bigelow untuk film The Hurt Locker. Katryn Bigelow berhasil mengalahkan manatan suaminya, James Cameron, yang menyutradarai film spektakuler Avatar.
Katryn Bigelow
Masih bisa terhitung dengan jari festival film yang memberi tempat tersendiri bagi sutradara perempuan untuk menunjukkan eksistensinya, sebut saja San Fransisco Women’s Film Festival, St.John’s International Women’s Film Festival, dan Women’s Film Festival. V Film Festival ini pun merupakan festival film perempuan pertama di Asia Tenggara.
V Film Festival sendiri merupakan festival film yang dipelopori oleh empat lembaga yang concern terhadap perempuan, Kartini Asia, Kalyana Shira Foundation, Komunitas Salihara, serta Yayasan Jurnal Perempuan pada akhir 2008. Pada tahun ini, mereka kembali mengadakan V Film Festival bekerja sama dengan berbagai kedutaan dan pusat kebudayaan luar negeri, seperti Swiss, Goethe, Erasmus, dan CCF.
Ridla An-Nuur S., coordinator secretariat V Film Festival
Ridla An-Nuur S., coordinator secretariat V Film Festival, menjelaskan, “V Film memilih prespektif perempuan karena kita ingin memberikan sebuah ruang khusus bagi sutradara perempuan yang memiliki talenta dan kualitas film yang baik namun tidak bisa memutarkan filmnya karena berbagai halangan. Ini adalah cara kita untuk mensupport mereka agar terus berkarya,” jelasnya.
Walaupun pihak V Film Fest memang tidak memutarkan film-film dari sutradara laki-laki karena beralasan ingin memberikan tempat khusus bagi sutradara perempuan yang memiliki talenta dan kualitas yang baik, namun tahun depan V Film Festival akan membuka section khusus dimana akan diputar film dari sutradara laki-laki yang menyoroti dunia perempuan. Hal ini tentu saja akan memberikan sudut pandang yang berbeda untuk perempuan itu sendiri. (Carla Isati Octama - 210110080059)
photo Katryn Bigelow by google.com
photo Ridla An-Nuur S. by Carla Isati Octama

14 Juni 2010 pukul 05.39
apakah hal tersebut ingin mempertegas adanya emansipasi wanita?hmm,padahal gaung "emansipasi wanita" sudah cukup lama ya dikumandangkan dan padahal jumlah wanita lebih banyak daripada pria.
saya agak kurang setuju jika adanya profil2 dan penghargaan yg diberikan kepada wanita seakan menunjukkan kaum wanita "ada" dan "bisa". kok sepertinya hal tersebut membuat kesan bahwa kaum wanita ingin "dihargai" dan malahan ingin dianggap "melebihi" pria. jika di suatu negara masih menganggap "wah" suatu award atau penghargaan yg diberikan kepada wanita dalam acara award tertentu,,berarti keberadaan wanita di negara tersebut belum diperhitungkan. sebaliknya, jika negara tersebut menganggap award yg diberikan ke wanita adalah hal yg biasa,,berarti kesetaraan wanita dan pria sudah terlaksana. so?dalam pemikiran saya,,sebaiknya adanya award yg diberikan kpd wanita jgn lah dianggap hal yang "menggemparkan",,anggap saja suatu yg "biasa" karena hal tersebut harusnya wajar terjadi di jaman emansipasi saat ini. :D
14 Juni 2010 pukul 06.02
hmmmm..
perempuan2 hebat...
semoga saya bs seperti mreka... :)
14 Juni 2010 pukul 07.32
hem.. kalo menurut saya perempuan sebagai sutradara sudah lama ada. mungkin duluuuuuuu banget ada stereotip sutradara itu pekerjaan laki-laki.
tapiii... zaman sekarang udah basi banget kalo masih ada yang bilang "ini kerjaan laki-laki... ini kerjaan perempuan".
semua sama aja kecuali skill yang dimiliki pribadi itu sendiri.. :)
14 Juni 2010 pukul 09.28
mau jadi script writer aja ah saya mah.hehe
14 Juni 2010 pukul 13.46
Di awal tulisan, disebutnya International Film Festival tapi selanjutnya dibilang V Film Festival. Mana yg benar? hehe