Film bisa merebut hati penonton salah satunya karena ceritanya merupakan adaptasi dari kisah nyata. Biasanya film-film tersebut bercerita tentang anak yang berjuang melawan penyakit mematikan, perang antar dua negara, atau keluarga yang mempertahankan keutuhannya. Sungguh menyentuh hati.
Berbeda dengan film ‘based on the true story’ lainnya, Hachiko bercerita tentang kesetiaan seekor anjing kepada majikannya. Tokoh utamanya jelas si anjing, jenis Akita dari Jepang. Film ini merupakan adaptasi dari sebuah kejadian nyata di Jepang, seorang professor yang memiliki anjing Akita (kemudian diberi nama Hachi). Si professor sangat menyayangi anjing tersebut. Saat suatu hari professor meninggal, Hachi tetap menunggunya di stasiun kereta, seperti yang biasa ia lakukan setiap hari. Dan itu berlangsung selama sembilan tahun setelah professor meninggal.
Film ini diproduksi di Jepang pada tahun 1987 dengan judul Hachiko: Monogatari. Diceritakan bahwa professor Ueno (Tatsuya Nakadai) mendapatkan anjing Akita keturunan asli. Bagi orang Jepang, anjing ini sangat special karena dipercaya sebagai anjing pembawa berkah. Kemudian professor pun merawatnya dengan penuh kasih. Tidak hanya dirinya, orang lain yang bertemu dengan Hachi pun kemudian jatuh hati. Setiap hari professor mengajak Hachi bermain. Dan setiap hari pula Hachi mengantar professor ke stasiun kereta Shibuya untuk pergi bekerja, pun pada sore harinya Hachi kembali menjemput professor di stasiun tersebut tepat pukul lima.
Suatu hari professor meninggal saat sedang mengajar di suatu perguruan tinggi karena serangan stroke. Hachi merasa sedih dan kehilangan majikannya. Setelah itu, ia pun selalu pergi ke stasiun untuk menunggu majikannya. Semua orang di stasiun heran melihat Hachi yang selalu datang tepat waktu dan diam di pintu gerbang stasiun. Beberapa kali orang-orang menjelaskan bahwa majikannya tidak akan pernah kembali, namun Hachi tetap menunggunya. Hingga sembilan tahun berlalu dan Hachi mati di pintu gerbang stasiun.
Pada 2009, rumah produksi di Hollywood, Delanic Films membuat film ini dengan judul yang sama, Hachiko: The Dog’s story. Dibintangi aktor Amerika yang namanya besar lewat film Pretty Woman dan Chicago, Richard Gere. Tidak jauh berbeda dengan versi Jepangnya, film Hollywood ini mengisahkan professor yang memiliki istri dan satu anak perempuan tersebut memelihara Hachi. Bedanya, Hachi ditemukan di stasiun saat Professor Parker pulang dari bekerja.
Beberapa teman mengatakan Hachiko Jepang lebih ‘menyentuh’ daripada versi baratnya. Saya setuju soal itu. Namun, ada beberapa hal yang lebih membuat saya nikmat menyaksikan versi Baratnya. Terlepas dari faktor bintang utama Richard Gere yang merupakan idola saya, pada versi barat saya menyukai alur dan detail cerita, serta sinematografi yang bagus. Pada versi aslinya (Jepang) film ini terasa terburu-buru, dengan professor yang diceritakan menyayangi Hachi, namun tidak secara detail digambarkan ‘the way he loves him’. Sebaliknya, di versi barat saya bisa melihat keintiman professor dengan Hachi. Bahasa anak mudanya mungkin ‘lebih nge-flow’. Saya bisa merasakan kesedihan mendalam saat melihat Hachi ditinggalkan professor karena sebelumnya potongan-potongan gambar kebersamaan Hachi dengan professor sudah menjejali pikiran dan hati saya.
Seperti orang bilang, ‘Lain Tangan Lain Buatan’. Film Hachiko yang dibuat di dua negara dengan perbedaan kultur dan referensi sinematografi, memiliki warna yang berbeda pulan. Tapi toh, kisah nyata dengan berbagai pesan moralnya sama-sama bisa diterima oleh penonton. Betapa mahalnya sebuah ikatan, hingga berbuah kesetiaan sembilan tahun. Dan betapa malunya manusia, jika kesetiaannya pada orang yang disayanginya dikalahkan oleh makhluk Tuhan tak berakal bernama anjing.
Laila Ramdhini
(210110080015)


12 Juni 2010 pukul 03.53
film ini bikin saya nangis :((
12 Juni 2010 pukul 04.04
yapp luaaarr biasa menyentuh :'(
12 Juni 2010 pukul 04.42
siapa punya dvd nya?
mau pinjeemm...
13 Juni 2010 pukul 00.20
setelah nonton hachiko a dog's tale yang hollywood aku nangisnya cuma ngalir . diem aja . filmnya sedih sih, tapi dingin
sinematografi sama color film nya emang keren, tapi kurang gimanaaa gitu
tapi pas nonton hachiko jepang, aku nangisnya ampe sesenggukan haha lebay tapi bener . apalagi pas lagi di kremasi terus didoain di rumah, hachiko maksa masuk ke dalem dan menggonggong keras, disitu istrinya mengalirkan air mata dalam diam, aku langsung huaaaaaaa xD
tapi endingnya agak mengecewakan, kenapa sih backsound credit tittle nya harus ceria, kan jadi nanggung hahaha
oke deh segitu aja, yu mari
14 Juni 2010 pukul 02.53
@ Dua Petualang : aku punya pastinyaa :D
@ Dina Agustina : iyaa mgkn pengaruh zaman kali yaa, si versi Jepang kan dibuatnya tahun 1987. yg hollywood msh seger buu. hehe
tapi dua duanya bikin aku sesenggukan jg sih :')
14 Juni 2010 pukul 13.49
belum nontooooon..huaaaaaaa