Film, Sutradara dan Perempuan

Perempuan itu bernama Giok Lian, seorang anak Indonesia yang di adopsi oleh keluarga Belanda di zaman penjajahan. Setelah bertahun-tahun, ia kembali ke Indonesia untuk menemukan jati diri dan keluarga kandungnya. Ternyata sejarah keluarganya pun begitu rumit, ibunya seorang Ca-Bau-Kan, Tinung dan ayahnya adalah saudagar dari Semarang bernama Tan Peng Lian yang berniat menguasai perdagangan di Jakarta. Keluarganya pun terlibat banyak permasalahan, mulai dari permasalahan ibunya sebagai seorang Ca-Bau-Kan yang dicari oleh banyak pria hingga persoalan ayahnya dalam perdagangan dan terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Itulah sinopsis dari film Ca-Bau-Kan, karya sutradara Nia Dinata tahun yang diputar dalam rangkaian roadshow International Film Festival di Bandung (26/5). Selain karya Nia Dinata, masih banyak karya sutradara perempuan yang diputar, seperti Perempuan dan Syariat Islam, sebuah rangkaian 6 film pendek, bagaimana syariat Islam dijalankan di kedua negara tersebut dan apa dampaknya bagi perempuan di dua negara muslim, Indonesia dan Malaysia. Ada juga film karya Nirit Pelet yang meraih penghargaan Full Frame Documentary Film Festival dan South by Southwest Film Festival, Say My Name, dokumenter yang mengajak penonton untuk menikmati kebudayaan dan musik hiphop, seta perjuangan para musisi hiphop perempuan mengejar cita-cita mereka di hiphop yang didominasi laki-laki, juga menghadapi dunia realitas mereka di komunitas urban yang ras dan miskin.
Dunia film yang selama ini didominasi oleh laki-laki pun ternyata sudah mulai memberi tempat bagi perempuan. Perempuan yang biasanya dulu sebagai aktris pemeran utama kini bisa merambah ke belakang layar.  Bahkan, selama 82 tahun Oscar berlangsung, baru sekali nama sutradara perempuan terpilih sebagai sutradara terbaik, Katryn Bigelow untuk film The Hurt Locker. Katryn Bigelow berhasil mengalahkan manatan suaminya, James Cameron, yang menyutradarai film spektakuler Avatar.
Katryn Bigelow

Masih bisa terhitung dengan jari festival film yang memberi tempat tersendiri bagi sutradara perempuan untuk menunjukkan eksistensinya, sebut saja San Fransisco Women’s Film Festival, St.John’s International Women’s Film Festival, dan Women’s Film Festival. V Film Festival ini pun merupakan festival film perempuan pertama di Asia Tenggara.
V Film Festival sendiri merupakan festival film yang dipelopori oleh empat lembaga yang concern terhadap perempuan, Kartini Asia, Kalyana Shira Foundation, Komunitas Salihara, serta Yayasan Jurnal Perempuan pada akhir 2008. Pada tahun ini, mereka kembali mengadakan V Film Festival bekerja sama dengan berbagai kedutaan dan pusat kebudayaan luar negeri, seperti Swiss, Goethe, Erasmus, dan CCF.
Ridla An-Nuur S., coordinator secretariat V Film Festival

Ridla An-Nuur S., coordinator secretariat V Film Festival, menjelaskan, “V Film memilih prespektif perempuan karena kita ingin memberikan sebuah ruang khusus bagi sutradara perempuan yang memiliki talenta dan kualitas film yang baik namun tidak bisa memutarkan filmnya karena berbagai halangan. Ini adalah cara kita untuk mensupport mereka agar terus berkarya,” jelasnya.
Walaupun pihak V Film Fest memang tidak memutarkan film-film dari sutradara laki-laki karena beralasan ingin memberikan tempat khusus bagi sutradara perempuan yang memiliki talenta dan kualitas yang baik, namun tahun depan V Film Festival akan membuka section khusus dimana akan diputar film dari sutradara laki-laki yang menyoroti dunia perempuan.  Hal ini tentu saja akan memberikan sudut pandang yang berbeda untuk perempuan itu sendiri. (Carla Isati Octama - 210110080059)

photo Katryn Bigelow by google.com
photo Ridla An-Nuur S. by Carla Isati Octama

Jangan Takut Bikin Film!

Pengen bikin film sendiri dengan budget minim dan peralatan sederhana? Bisa kok!

Seorang sutradara muda yang berhasil dengan film The Conductor dan Romeo Juliet, Andi Bachtiar Yusuf, pernah bilang, “Filmmaking is just simple, but making a simple film is difficult”.

Butuh ide segar untuk membuat film yang berbeda dengan film-film mindstream yang banyak beredar saat ini.
Namun, jangan pula menuangkan ide tersebut dengan asal-asalan.

Keterbatasan dana dan sumberdaya manusia bukan hambatan bagi kamu untuk membuat sebuah film.
Berikut tahapan-tahapan yang bisa kita lakukan untuk membuat film sendiri, alias film indie.


PRA PRODUKSI

►► Briefing Crew
      Bikin film adalah kerja tim. Jadi, pastinya yang pertama kita lakukan adalah pembentukan tim produksi.
     Biasanya dalam film pendek, pembagian job desk adalah sbb: Produser, Sutradara, Asisten Sutradara, Director Of Photography, Kameramen, Art Director, Make Up Artist, Technical Affair, dan Editor.

►► Story Concept
Dalam tahap ini, seluruh kru dapat menuangkan ide-idenya untuk membuat konsep cerita. Disini dituntut kreativitas dan imajinasi yang tinggi dari seluruh kru. Setelah itu, tentukan satu ide cerita yang terbaik dan masuk akal.

►► Scriptwriting

Example ..

INT. RUANG MAKAN – SIANG HARI - YOLA
Yola yang belum melepas baju seragamnya membawa mie instan yang telah diseduh ke meja makan dan duduk di salah satu kursi yang membelakangi ruang keluarga. Saat akan menyantap mie, tiba–tiba BEL RUMAH BERBUNYI.

YOLA
(menoleh ke arah ruang tamu)
Siapa sih?


►► Survey Lokasi
     Satu hal yang harus kita ingat adalah lokasi juga harus sesuai dengan scene. Ini karena skenario harus bisa divisualisasikan dengan baik ke dalam bentuk gambar.   

►► Talent Scouting
          Tahap talent scouting pada film indie tidak serumit pada proyek film layar lebar atau sinetron. Berikut yang harus diperhatikan:
1. Kesesuaian karakter, sebisa mungkin kita mencari talent yang mampu mewakili karakter yang ada dalam skenario
2. Komitmen, pilihlah talent yang “ikhlas” bekerja dengan kita.  karena dana kita juga msih ‘indie’

►► Casting
     Istilah ini pasti sudah tidak asing bagi kita. Setelah kita mencari talent, maka ini saatnya untuk “mengetest” mereka.

►► Reading
     Setelah talent ditentukan, tahap selanjutnya adalah reading. Dalam tahap ini talent diberi skenario untuk dibaca di depan sutradara dan kemudian diperdalam.

►► Production Schedule
     Produser harus menentukan syuting berlangsung berapa hari, pukul berapa, scene mana yang akan diambil, Jadwal yang dibuat produser juga harus sesuai dan tidak berbenturan dengan seluruh talent dan kru film.

►► Breakdown
     Pada tahap ini kita harus memastikan seluruh tahapan di atas sudah dilakukan dengan baik. Pastikan juga seluruh perlengkapan syuting yang akan digunakan,seperti kamera, tripod, lighting,dll sudah tersedia. Jangan pula menyepelekan persiapan wardrobe, make up, dan properti.


PRODUKSI

►► Time Table
     pada tahap ini kita akan membuat perencanaan syuting yang lebih detil untuk satu hari syuting, mencakup urutan pengambilan gambar, durasi/waktu yang dibutuhkan dalam pengambilan gambar dll.

►► Location Setting
     Seting lokasi mencakup penempatan peralatan dan properti syuting di lokasi syuting. Sutradara harus peka terhadap lokasi syuting serta lingkungan sekelilingnya.

►► Angle Setting
     Pada tahap ini Sutradara dan DOP serta kameramen memegang kendali untuk menentukan titik pengkameraan yang tepat guna terciptanya angle yang sempurna.
    
►► Executions
     Ini adalah tahap menegangkan yang ditunggu-tunggu oleh sineas manapun. Karena pada tahap ini, kata “action” yang diucapkan oleh sutradara sekaligus menandakan proses syuting sudah dimulai.
    

PASCA PRODUKSI

Untuk itu, perlu sebuah finishing touch untuk membungkus film kita sehingga dapat dinikmati oleh orang lain. Caranya adalah dengan mengedit film kita.
Banyak media yang bisa kita gunakan untuk mengedit film. Salah satu yang mudah dan sering digunakan adalah Sony Vegas. Kita dapat memotong adegan, membuat efek suara, gerak, dan menambahkan instrumen musik ke dalam film



Disunting dari Handout Workshop Cinematography Club Fikom Unpad 2008 

Laila Ramdhini
(210110080015)


The Cove : Pembunuhan Massal Lumba-Lumba

Siapa yang tidak gemas melihat tingkah lumba-lumba, siapa pula yang tidak kagum akan kepintarannya? Hewan mamalia keturunan paus ini juga dianggap sebagai sahabat manusia. Banyak nelayan yang merasa aman ketika berlayar dengan diiringi lumba-lumba di samping perahunya, begitu pula dengan peselancar atau snorkeler yang banyak ditolong oleh lumba-lumba saat mendapat ancaman dari ikan ganas seperti paus.
     Cerita mengenai lumba-lumba memang selalu menarik. Film fiksi produksi Warner Bros “Free Willy” dengan tokoh utama lumba-lumba berhasil menarik perhatian masyarakat dunia pada tahun 1993. Kini giliran Ocean Preservation Society (OPS) yang bercerita tentang lumba-lumba melalui film. Bedanya, ini merupakan film dokumnter yang berarti kejadiannya nyata. Selain itu, kita tidak akan menemukan kisah petualangan seru dan menggemaskan mengenai persahabatan lumba-lumba dengan manusia seperti dalam Free Willy. The Cove bercerita tentang pembunuhan masal lumba-lumba di Taiji, Jepang.
     Ric O’ Bary seorang pelatih lumba-lumba yang juga melatih Free Willy mengungkapkan berbagai ‘kezhaliman’ yang dilakukan terhadap lumba-lumba melalui The Cove. Ia bersama Louie Psihogos (OPS founder) dan timnya secara gerilya mencoba merekam kegiatan yang dilakukan para nelayan di teluk kecil bagian barat daya Jepang tersebut. Bagian tepi teluk tersebut dipagari dengan kawat berduri dan berbagai tulisan yang pada intinya berbunyi: “Dilarang Masuk”, “Dilarang Memfoto”, dan “Awas Bahaya”. Namun, dengan berbekal kamera tersembunyi dan berbagai peralatan mereka berhasil menangkap gambar mengenai aktivitas para nelayan dan orang-orang di sekitar teluk tersebut.
     Sebuah potret kebiadaban para penangkar lumba-lumba pun berhasil diabadikan oleh Ric O’ Bary dan timnya. Lumba-lumba yang masih hidup ditangkap untuk dikirim ke berbagai negara seluruh dunia untuk di-akuariumkan, sedangkan sisanya dibunuh untuk dijual dagingnya. Penduduk Jepang di daerah lain seperti Tokyo tidak mengetahui bahkan tidak menyangka adanya ‘aktivitas’ seperti itu di Taiji. Pemerintah mereka memang tidak memiliki undang-undang yang mengatur penangkaran lumba-lumba, dan mengklaim bahwa pengkonsumsian daging lumba-lumba merupakan tradisi bangsanya sejak lama.
Yang jadi permasalahan adalah bagaimana pembunuhan lumba-lumba secara besar-besaran tersebut ‘lolos’ dari perhatian pemerintah Jepang. Dalam film ini disebutkan fakta bahwa sebanyak 23.000 ekor lumba-lumba dibunuh tiap tahunnya di Taiji, bahkan dagingnya yang sebenarnya mengandung racun Mercury diperjual-belikan secara legal. Maka, dunia termasuk negara Jepang merasa ‘tertampar’ dengan adanya film ini. Pada Maret lalu, The Cove berhasil menyabet Piala Oscar 2010 kategori film dokumenter. Selanjutnya, seperti biasa, kontroversi bermunculan terlebih dari pemerintah Jepang yang merasa ‘kecolongan’.

Film Dokumenter Mendebarkan 

Menonton film ini saya merasa mendapatkan pengalaman yang lain. Bukan seperti saat menonton Earth (Alastair Fothergill), Pakubuwono (IGP Wiranegara), atau The Conductors (Andibachtiar), yang di beberapa scene membuat saya bosan dengan visualisasi realita yang ada dan wawancara dengan berbagai orang. The Cove berhasil memacu adrenalin saya seperti “This Is it”.
     Pada film This Is It yang mendokumentasikan perjalanan hidup dan karier Michael Jackson, emosi saya berhasil ‘dipermainkan’, padahal saya bukan fans berat Michael Jackson. Namun, saat menyaksikan film tersebut selama ± 120 menit saya sukses jatuh cinta pada MJ. Sama halnya ketika menonton film The Cove, saya seperti menonton film action-drama, bukan film dokumenter.
     Alur film ini cukup mengasyikan buat saya. Saya bisa merasakan bersahabat dengan lumba-lumba saat diperlihatkan stock shoot lumba-lumba yang berenang sambil salto ke udara, juga saat penyelam-penyelam professional mengaku bahwa dirinya seperti merasakan ikatan yang kuat saat menyelam dan bertemu lumba-lumba. Namun, di tengah-tengah film, tensi dinaikan dengan menampilkan gambar para penangkar yang mengusir paksa (dengan berteriak dan mendorong) peselancar, aktivis peduli perikanan, serta wisatawan yang mendekati teluk. Adegannya persis seperti Satpol PP yang sedang menertibkan pedagang kaki lima pada siaran berita.
     Belum sampai di situ, para pejabat pemerintah Jepang, khususnya dari International Whales Commission (ICW) secara diplomatis menutup-nutupi segala tindakan yang terjadi di Taiji. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Ric O’ Bary dan teman-temannya, secara sembunyi-sembunyi mereka meletakan kamera di bawah laut, di pohon, bahkan di dalam batu buatan. Seperti adegan dalam film Mission Impossible pula mereka mereka diam-diam merekam semua aktivitas di teluk Taiji. Puncak ketegangan film ini disimpan di menit-menit terakhir dengan memunculkan gambar pembunuhan lumba-lumba. Sangat mengerikan. Puluhan lumba-lumba ditusuki dengan besi pengait yang panjang hingga menggelepar kemudian mati. Dan blaarrr.. seluruh air diteluk memerah oleh darah lumba-lumba!
     Film yang cerdas dan sangat menyentuh. Bagi saya film merupakan sebuah media komunikasi yang sangat efektif. Dengan menggabungkan audio dan visual, pesan diharapkan sampai ke penonton dengan mudah. Film bukan hanya sebagai penghibur tapi juga bisa sebagai media pendidik. Saya yakin jika ‘ditangani’ oleh orang yang benar dan ‘dikonsumsi’ secara benar juga, film bisa mencerdaskan sebuah bangsa.


Laila Ramdhini
(210110080015)

Hachiko : Belajar kesetiaan dari Anjing


Film bisa merebut hati penonton salah satunya karena ceritanya merupakan adaptasi dari kisah nyata. Biasanya film-film tersebut bercerita tentang anak yang berjuang melawan penyakit mematikan, perang antar dua negara, atau keluarga yang mempertahankan keutuhannya. Sungguh menyentuh hati.
     Berbeda dengan film ‘based on the true story’ lainnya, Hachiko bercerita tentang kesetiaan seekor anjing kepada majikannya. Tokoh utamanya jelas si anjing, jenis Akita dari Jepang. Film ini merupakan adaptasi dari sebuah kejadian nyata di Jepang, seorang professor yang memiliki anjing Akita (kemudian diberi nama Hachi). Si professor sangat menyayangi anjing tersebut. Saat suatu hari professor meninggal, Hachi tetap menunggunya di stasiun kereta, seperti yang biasa ia lakukan setiap hari. Dan itu berlangsung selama sembilan tahun setelah professor meninggal.
     Film ini diproduksi di Jepang pada tahun 1987 dengan judul Hachiko: Monogatari. Diceritakan bahwa professor Ueno (Tatsuya Nakadai) mendapatkan anjing Akita keturunan asli. Bagi orang Jepang, anjing ini sangat special karena dipercaya sebagai anjing pembawa berkah. Kemudian professor pun merawatnya dengan penuh kasih. Tidak hanya dirinya, orang lain yang bertemu dengan Hachi pun kemudian jatuh hati. Setiap hari professor mengajak Hachi bermain. Dan setiap hari pula Hachi mengantar professor ke stasiun kereta Shibuya untuk pergi bekerja, pun pada sore harinya Hachi kembali menjemput professor di stasiun tersebut tepat pukul lima.
    Suatu hari professor meninggal saat sedang mengajar di suatu perguruan tinggi karena serangan stroke. Hachi merasa sedih dan kehilangan majikannya. Setelah itu, ia pun selalu pergi ke stasiun untuk menunggu majikannya. Semua orang di stasiun heran melihat Hachi yang selalu datang tepat waktu dan diam di pintu gerbang stasiun. Beberapa kali orang-orang menjelaskan bahwa majikannya tidak akan pernah kembali, namun Hachi tetap menunggunya. Hingga sembilan tahun berlalu dan Hachi mati di pintu gerbang stasiun.
Pada 2009, rumah produksi di Hollywood, Delanic Films membuat film ini dengan judul yang sama, Hachiko: The Dog’s story. Dibintangi aktor Amerika yang namanya besar lewat film Pretty Woman dan Chicago, Richard Gere. Tidak jauh berbeda dengan versi Jepangnya, film Hollywood ini mengisahkan professor yang memiliki istri dan satu anak perempuan tersebut memelihara Hachi. Bedanya, Hachi ditemukan di stasiun saat Professor Parker pulang dari bekerja.
     Beberapa teman mengatakan Hachiko Jepang lebih ‘menyentuh’ daripada versi baratnya. Saya setuju soal itu. Namun, ada beberapa hal yang lebih membuat saya nikmat menyaksikan versi Baratnya. Terlepas dari faktor bintang utama Richard Gere yang merupakan idola saya, pada versi barat saya menyukai alur dan detail cerita, serta sinematografi yang bagus. Pada versi aslinya (Jepang) film ini terasa terburu-buru, dengan professor yang diceritakan menyayangi Hachi, namun tidak secara detail digambarkan ‘the way he loves him’. Sebaliknya, di versi barat saya bisa melihat keintiman professor dengan Hachi. Bahasa anak mudanya mungkin ‘lebih nge-flow’. Saya bisa merasakan kesedihan mendalam saat melihat Hachi ditinggalkan professor karena sebelumnya potongan-potongan gambar kebersamaan Hachi dengan professor sudah menjejali pikiran dan hati saya.
     Seperti orang bilang, ‘Lain Tangan Lain Buatan’. Film Hachiko yang dibuat di dua negara dengan perbedaan kultur dan referensi sinematografi, memiliki warna yang berbeda pulan. Tapi toh, kisah nyata dengan berbagai pesan moralnya sama-sama bisa diterima oleh penonton. Betapa mahalnya sebuah ikatan, hingga berbuah kesetiaan sembilan tahun. Dan betapa malunya manusia, jika kesetiaannya pada orang yang disayanginya dikalahkan oleh makhluk Tuhan tak berakal bernama anjing.


Laila Ramdhini
(210110080015)

Diskusi Kreatif Dengan Cin(T)a


“Kenapa Allah nyiptain kita berbeda-beda kalau Ia hanya ingin disembah dengan satu cara?”
“Makanya Allah nyiptain cinta, biar yang beda-beda bisa nyatu.”
Kalimat tersebut merupakan potongan dialog antara Anisa (Saira Jihan) dan Cina (Sunny Soon) dalam salah satu scene di film Cin(T)a. Film ini merupakan film independent (indie) yang berhasil menjebol jaringan bioskop ternama, Blitzmegaplex. Sebelum rilis di Indonesia, Cin(T)a pernah diputar di berbagai Festival Film di London. Dibuat oleh sutradara muda bersama rumah produksi Sembilan Matahari, yang merupakan kumpulan anak muda Bandung beralmamater Institut Teknonologi Bandung (ITB), film ini juga ber-settingkan kampus tersebut.
     Pada Selasa (12/5), Ikatan Alumni Unpad (IKA) bekerja sama dengan Cinematography Club Fikom Unpad mengadakan pemutaran dan diskusi film Cin(T)a. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian acara Unpad Creative Expo yang digelar tanggal 3 – 16 Mei 2010.Unpad Creative Expo sendiri merupakan acara perayaan Dies Natalies Unpad ke-53 sekaligus ulang tahun IKA ke-50. Berbagai acara untuk menampung kreativitas meramaikan Unpad Creative Expo ini. Mulai dari annual meeting, bazaar, talkshow, workshop fotografi dan papercraft, seminar wirausaha, pertunjukan musik tradisional dan modern, juga termasuk pemutaran dan bedah film Cin(T)a. 
     “Berangkat dari ‘keresahan’ masyarakat yang ingin sekali menonton film Cin(T)a sekaligus ingin dapat bedah filmnya, kenapa filmnya harus gini dan gitu,” ungkap Aji (Fikom Unpad, 2007) Ketua pelaksana acara ini, saat ditanya kenapa memilih film Cin(T)a untuk diputar dalam rangkaian Unpad Creative Expo. Acara yang dimulai dari pukul sembilan pagi ini mendapat cukup banyak apreasisasi dari peserta yang hadir, mulai dari mahasiswa hingga pelajar di Kota Bandung.
     Setelah dibuka oleh perwakilan IKA, acara ini dimulai dengan pemutaran film pendek karya Cinematography Club Fikom bertajuk Surya di Padjadjaran. Film Cin(T)a diputar setelahnya, kemudian dilanjut dengan bedah film. Untuk sesi pertama bedah ide dan pra produksi, produser dan sutadara sekaligus penulis skenario, Sonny dan Sammaria menjelaskan proses munculnya ide pembuatan film hingga pembuatan skenario. Di akhir sesi, tiga orang peserta dipersilakan bertanya. Pertanyaan dari peserta cukup kritis terhadap film Cin(T)a sehingga membuat Mbak Sam, begitulah Sammaria akrab disapa, kewalahan menjawabnya. “Saya sendiri tidak sampai kepikiran sejauh itu saat menulis cerita, tapi saya takjub di setiap bedah film peserta mendefinisikan tiap bagian film ini dengan cerdas,” ujarnya.
     Pada sesi kedua, giliran Art Director, Director of Photography, serta editor film Cin(T)a yang memberikan penjelasan tentang tahap produksi dan pasca produksi. Bang Rezki Aditya sebagai Art Director menjelaskan bahwa kebanyakan properti yang digunakan merupakan hasil buatan sendiri. “Sebisa mungkin tidak mengeluarkan biaya, ya kayak lampu itu, terus barang etnik Jawa di kamar Anisa, pinjem semua tuh,” ujarnya. Sedangkan soal sinematografi, Bang Sonny sebagai DOP mengaku dirinya banyak berdiskusi dengan Mbak Sam soal pengambilan gambar. Dalam film ini juga banyak digunakan teknik medium maupun extreme close up. Itu karena yang banyak disorot adalah Anisa dan Cina. “Konsepnya (film ini) kan memang hanya mereka berdua yang ada di kamera, dunia milik kita berdua lah,” tambahnya.
     Diskusi berakhir pukul tiga sore. Semua peserta yang tampak antusias dari awal hingga akhir acara langsung memburu kru film Cin(T)a untuk foto bersama, meminta tanda tangan, dan ada juga yang diskusi soal film. Putri, mahasiswa D3 PAAP Unpad, yang datang sebagai peserta mengaku datang ke acara ini karena sangat tertarik dengan film Cin(T)a dan ingin mengetahui cara pembuatan film ini. “Sempat lihat proses syuting (film) temen sih, abis datang ke sini jadi pengen bikin (film) sendiri deh,” tambahnya. Kalau begitu, tercapai lah tujuan acara Unpad Creative Expo ini. Be Creative, Not Plagiative!


Laila Ramdhini
(210110080015)

Festival ‘Peduli’ Perempuan

“Ladies first”
“Lambat banget jalan lo, kayak cewek!”
“Anak gadis kok pulangnya malam”
Pernyataan tersebut sebenarnya mengangkat derajat wanita atau malah memarjinalkannya? Kaum feminis – para pegiat yang memperjuangkan kesetaraan hak wanita – menyebut pernyataan di atas ‘melemahkan’ perempuan. Menurut mereka, dengan pernyataan dan anggapan yang ada di masyarakat saat ini, perempuan dianggap insan yang lemah dan berada di bawah laki-laki. Maka, banyak dari kaum feminis yang mencoba menghapuskan anggapan umum tersebut.
     Namun, yang akan dibahas di sini adalah geliat perjuangan perempuan melalui film. Sebuah ajang bernama V Film Festival (VFF) tahun ini digelar kembali untuk yang kedua kalinya. Acara yang kali ini bertema Identity and Youth merupakan rangkaian acara, diantaranya seminar, FGD, dan pemutaran film, VFF roadshow ke berbagai kota diantaranya Jakarta, Bali, Malang, Bandung, dan Jogjakarta.

Film-film yang diputar pada V Film Festival ini merupakan film yang dibuat oleh, dari, dan untuk perempuan. maksudnya, film-film tersebut disutradarai oleh perempuan dan bercerita tentang perempuan. Hal tersebut memang merupakan tujuan dari acara ini, yaitu untuk mengapresiasi karya sineas perempuan, selain juga untuk lebih dalam memperlihatkan perspektif tentang perempuan lewat film.
     Roadshow VFF di Bandung digelar selama dua hari di Central Culture de France (CCF), Bandung pada 26–27 Mei 2010 dengan memutar tiga film yaitu Ca Bau Khan (Nia Dinata), Perempuan dan Syariat Islam (Norhayati Kaprawi dan Ucu Agustin, Malaysia) ), dan Say My Name ( Nirid Peled, USA. Beberapa penonton yang hadir diantaranya mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Parahyangan (Unpar), dan beberapa dari komunitas film di Bandung. Sayangnya, di hari pertama pengunjung yang datang hanya berjumlah belasan. “Kita memang bermasalah dengan publikasi kemarin, tapi sudah banyak cara yang dilakukan seperti publikasi lewat poster dan dunia maya,” ujar Ridhla, Ketua bagian kesekretariatan V Film Festival (VFF).
     Terlepas dari hal tersebut, para penonton yang hadir mengaku puas dengan film yang disajikan dan sangat mengapresiasi acara tersebut. Suherni dan Yurika mahasiswa Universitas Parahyangan mengaku sangat antusias dengan berbagai acara pemutaran film, apalagi VFF mengangkat tema perempuan. Mereka juga berharap di Bandung lebih banyak lagi wadah untuk menggali kretivitas dan mengapresiasi karya di bidang film.

Laila Ramdhini
(210110080015)

Popcorn Emas milik New Moon!

Ajang penghargaan film Hollywood MTV Movie Award (MMA) 2010 (6/6) dikuasai oleh Twilight Saga : New Moon. New Moon berhasil menyabet 5 penghargaan dari total 13 penghargaan. Piala berupa pop corn emas itu diberikan pada pemenang yang dipilih melalui hasil voting yang ditutp tanggal 9 April lalu, melibatkan anak muda dari seluruh dunia untuk memvote siapa yang pantas membawa pulang pop corn emas.

Para Pemeran The Twilight Saga : New Moon saat menerima penghargaan Best Movie

Kesuksesan New Moon tahun ini tidak hanya berhasil menyabet penghargaan Best Movie mengalahkan Alice in Wonderland, Avatar, Harry Potter and The Half-Blood-Prince, serta The Hangover. Selain itu, Kristen Stewart dan Robbert Pattinson kembali memenangkan Best Kiss untuk kedua kalinya. Selain itu, mereka juga memenangkan penghargaan Best Female Perfomance dan Best Male Perfomance dalam film yang sama.

MMA tahun ini berlangsung di Gibson Amphitheater, Universal Studios, California, di pandu oleh komedian Anziz Anzhari. Anziz sukses mengocok perut para hadirin dengan menyanyikan lagu yang ia dedikasikan khusus untuk Film Avatar buatan James Cameron. Pada MMA tahun ini, ada beberapa kategori baru, yakni The Global Superstar, Biggest Baddass Star, dan Best Scared-As-S**t Moment.

Penghargaan  MTV Generation, semacam life-time achievement versi MTV, kali in idiberikan kepada Sandra Bullock. Sandra Bullock adalah perempuan pertama yang menerima penghargaan ini setelah sebelumnya pop corn emas jatuh kepada Ben Stiller, Jim Carey, Tom Cruise dan Adam Sandler. Ini adalah penampilan pertama Sandra Bullock pasca berpisah dengan suaminya, Jesse James. Saat menerima penghargaan ini, Sandra membuat kejutan dengan mencium Scarlett Johansson.

MMA kali ini juga dimeriahkan oleh penampilan Katy Perry dengan rambut birunya yang terinspirasi dari kartun Smurf, Snoop Dog, Miike Snow, serta come back nya Christina Aguilera setelah vakum selama 3 tahun. Untuk kalian yang tidak sempat menonton tayangan livenya, jangan lupa untuk menonton tayangannya di Global TV, Minggu, 13 Juni 2010 pkl. 20.45 WIB

Berikut ini daftar pemenang MTV Movie Award 2010 :
Best Movie : The Twilight Saga : New Moon
Best Comedic Perfomance : Zach Galifianakis – The Hangover
Global Superstar : Robbert Pattinson
Best Male Perfomance : Robbert Pattinson –The  Twilight Saga : New Moon
Biggest Baddass Star : Rain – Ninja Assassin
Best Villain : Tom Felton - Harry Potter and The Half-Blood-Prince
Best WTF Moment : Ken Jeong - The Hangover
MTV Generation Award : Sandra Bullock
Best Kiss : Kristen Stewart dan Robert Pattinson - The  Twilight Saga : New Moon
Best Scared-As-Sh**t Perfomance : Amanda Seyfried – Jennifer’s Body
Best Breakout Star : Anna Kendrik – The Up In The Air
Best Female Perfomance : Kristen Stewart - The  Twilight Saga : New Moon
Best Fight : Beyonce Knowles vs. Ali Larter - Obsessed

sumber : www.mtv.com (Carla Isati Octama -210110080059)

Andibachtiar Yusuf : Konsisten yang Paling Penting!

Apa impian kamu? Jadi dokter, arsitek, atau pengusaha? Atau mungkin jadi filmmaker? Nah, untuk kamu yang bercita-cita menjadi filmmaker ataupun yang tertarik dengan dunia sinematografi, ada cerita dan saran menarik dari Andibachtiar Yusuf atau yang biasa di sapa Bang Ucup. Tentu kalian udah tau kan karya-karyanya Bang Ucup seperti Romeo Juliet dan The Conductors? Nah, breakdownsheet berhasil ngobrol-ngobrol dengan Bang Ucup saat beliau menjadi pembicara bedah buku 100+ Fakta Unik Piala Dunia, di Kampus FIKOM Unpad, 14 Mei 2010.



Bang Ucup kan dulu kuliahnya di jurusan Jurnalistik, kenapa sekarang jadi sutradara?
Yah, karena gw ga mau jadi jurnalis, haha

Kenapa ga mau jadi jurnalis bang? Apa karena pekerjaan jurnalis masih dianggap sebelah mata bang?
Sekarang mah gak ada pekerjaan yang gak dianggap sebelah mata, gak ada pekerjaan yang gak dianggap rendah, selain PNS, dokter, arsitek, yang kayak gitu. Yang kayak gini aja (sutradara) malah dianggap rendah.

Dengan berbagai anggapan seperti itu, kenapa abang masih mau menjadi sutradara?
Karena hal yang gw suka film sama bola, makanya gw jadi sutradara juga jadi komentator bola, gw ngerjain dua itu aja.

Mulai kapan Bang Ucup serius ingin jadi sutradara?
Gw waktu itu ketika pengen buat film itu umur 26-27, tapi gw serius umur 29-30, dan gw memutuskan untuk bikin film pas umur 32.

Bagaimana pendapat Bang Ucup tentang generasi muda yang mempunyai hobi bikin film?
Sekarang ditolong dengan banyaknya teknologi. Bikin film pake 5D dan kamera handphone aja bisa. Dulu zaman gw gak ada teknologi digital gitu. Gw belajar film otodidak. Selain itu, sekarang banyak komunitas film juga. Masalahnya kalau udah bikin film terus udah didiemin, gak didistribusiin. Harusnya lo nyari tempat untuk distribusiin film lo, sekarang kan banyak festival film, lewat internet bisa. Komunitas film itu sibuk bikin, tapi gak pernah mikir gimana caranya film bisa muter balik, kan pas bikin film itu ada uang yang harus dikeluarin, pas bikin kan ada uang yang dikeluarin. katakanlah dananya Rp.200.000, berarti harus balik Rp.400.000 biar bisa bikin film lagi.

Saran buat para filmmaker muda apa nih bang?
Orang Indonesia kebanyakan mikir tentang pesan moral yang mau disampaikan, akhirnya mereka malah nyimpen ide filmnya selama bertahun-tahun dan gak direalisasikan. Jadi, kalau mau buat film, yaudah langsung buat aja, gak usah kebanyakn mikir. Lo harus tau apa yang mau lo capai, terus lo bikin, kuat di konten dan juga pendistribusiannya cepet.
Selain itu harus konsisten. Banyak orang yang bikin film itu cuma gaya-gayaan doang. Rata-rata begitu udah lulus, orangtua pasti langsung nyuruh suruh kerja. Orang tua kita kan nyuruh kita nyari duit, tapi apa nyari duit itu bikin kita jadi seneng? Kan engga. Konsisten yang paling penting, dan lo pasti tau ketika lo bikin film, lo bisa ato gak. (Carla Isati Octama - 210110080059)

Pemanasan sebelum Piala Dunia ala Erasmus Huis

Piala Dunia tinggal menghitung hari, dan aura-aura Piala Dunia sudah makin terasa, mulai dari pertokoan yang menjual merchandise Piala Dunia, iklan-iklan, pemutaran ulang pertandingan Piala Dunia sebelumnya, hingga taruhan-taruhan siapa yang bakal jadi juara Piala Dunia. Nah, dari dunia film pun tak mau ketinggalan, Erasmus Huis bekerja sama dengan British Council dan Kineforum Kesenian Jakarta memberikan ‘pemanasan’ bagi para penggemar sepakbola dan juga pecinta film dengan mengadakan Football Film Festival, 3-6 Juni 2010 di Erasmus Huis, Jl. H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta.
Football Film Festival 2010
Football Film Festival yang digelar dari 3-6 Juni yang lalu memutar 14 film bertema sepakbola dari Indonesia, Belanda, dan juga Inggris. Film yang diputar pun tidak hanya yang bergenre fiksi, tetapi juga dokumenter seperti tim kesebelasan Inggris di Piala Dunia 1990 di film One Night in Turin, Maradona, dan juga Johan Cruijff di film En Un Momento Dado.
En Un Momento Dado
Menurut Dr. Katinka van Heeren, Football Film Festival tidak hanya dilaksanakan dalam rangka menyambut Piala Dunia saja. “Sebetulnya di Belanda banyak sekali film bola, ternyata di Indonesia juga banyak, dan kami ingin memperbandingkan antara keduanya. Akhirnya kami juga bekerjasama dengan British Council, kami juga mendapat beberapa film dari Asia, sehingga kita bisa memperbandingkan film-film dari semua negara,”” jelasnya. “Dengan mengambil perspektif ini, dan ditambah dengan momen yang pas, menjelang Piala Dunia, akhirnya festival ini dapat dilaksanakan.” Katinka beranggapan bahwa film-film bola selalu menarik untuk ditonton dan didiskusikan, walaupun tidak bertepatan dengan Piala Dunia sekalipun.
Dr. Katinka van Heeren
Walapun namanya festival film, acaranya tidak hanya memutarkan film-film saja loh! Pada 3 Juni, Andibachtiar Yusuf, sutradara Romeo Juliet datang untuk berdiskusi mengenai dibalik layar filmnya, Jumat, 4 Juni, ada makan malam dan pembukaan “With Football For a Brighter Indonesia” yang dihadiri oleh CEO Liga Indonesia Djoko Driyono, Ketua Komisi Disiplin PSSI Hinca Pandjaitan, juga perwakilan dari Erasmus Huis yang berbicara tentang bagaimana menyambung Indonesia-Belanda dengan bola. Selain itu, tampak pula para pemain sepakbola Indonesia, seperti Bambang Pamungkas, Christian Gonzalez, dan Ricardo Salampessy.
Diskusi RomeoJuliet bersama Andibachtiar Yusuf dan Dr.Katinka
Setelah “With Football For a Brigther Indonesia”, ada nonton bareng film En Un Momento Dado bersama Indonesia All-Stars.  Film dokumenter ini menceritakan perjalanan legenda sepakbola Belanda, Johan Cruijff. Dr. Katinka memberikan pengantar tentang film ini, “Johan Cruijff dia itu sportsman, bukan hanya dalam bola tetapi juga dalam kehidupan pribadinya. Saya harap pemain bola Indonesia, bisa mencontoh dia, bisa mempertahankan sportship bukan hanya di lapangan, tetapi juga diluar lapangan,” jelasnya. Nah, pada 5 Juni ada launching komik “Gilanya Bola” terbitan Cendana Art Media bersama Andibachtiar Yusuf dan Cahyo Widi (kontributor Gilanya Bola).
Bagi kalian semua yang belum sempat datang ke Football Film Festival, jangan kecewa. Football Film Festival masih memiliki rangkaian acara di  Kineforum tanggal 25-27 Juni. “Football At The Neighbours” ini mengangkat tentang sepakbola di wilayah Asia. Beberapa film yang diputar di sana antara lain The Black Meteor, Homeless FC, Can and Slippers dan Sagai United.
 “Film itu adalah fakta yang difiksikan,” ujar Andibachtiar Yusuf. Nah, sebelum kita menonton ‘langsung’ Piala Dunia, tiada salahnya kita pemanasan dengan ‘fakta yang difiksikan’ di Football Film Festival ini :D  (Carla Isati Octama - 210110080059; photo by Carla, except En Un Momento Dado from google.com)

Kick-Ass, Pahlawan Super Tanpa Kekuatan Super dan Senjata Super

Ayo acung, diantara kalian siapa yang tidak tau tokoh superhero seperti Batman, Superman, atau Superwoman? Pasti banyak diantara kalian yang tau, atau bahkan sangat mengidolakan mereka hingga kalian pernah terpikir untuk menjadi seperti mereka? Atau kalian mempunyai cita-cita terkenal di Youtube dan Myspace? Nah, mungkin film yang satu ini akan menginspirasi kamu!


Film Amerika buatan Marv ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Dave Lewinski (Aaron Johnson) yang memiliki impian untuk menjadi superhero seperti cerita-cerita di komik, namun sayangnya ia tidak memiliki kekuatan super, dan juga ilmu bela diri yang minim. Dengan berbekal kepercayaan diri, kenaifan, dan juga kostum hijaunya, ia menjelma sebagai superhero baru bernama Kick-Ass. Suatu hari, Kick-Ass yang sedang berusaha menolong kucing malah berkelahi dengan kawanan geng, dan adegan ityu direkam oleh seseorang dan menjadi fenomena baru di Youtube. Namun, di saat bersamaan ia juga diincar oleh Frank D’Amico, penjahat kelas kakap yang ingin membunuh Kick-Ass untuk mengamankan bisnisnya. Dalam perjalanannya mencari arti dari superhero yang sebenarnya, ia bertemu dengan para real superhero lainnya, Big Daddy (Nicholas Cage), Hit Girl (Chloe Moretz), dan Red Mist (Christopher Mintz-Plasse).


Film besutan Matthew Vaughn yang juga menyutradarai film Stardust (2007) dijamin memikat kalian semua, mulai dari segi cerita, visual, dan juga akting pemainnya yang kebanyakan adalah nama baru di industri perfilman, kecuali Nicholas Cage. Namun, akting Chloe Moretz sebagai Hit Girl benar-benar mencuri perhatian banyak orang. Aktris cantik berusia 13 tahun yang juga bermain dalam 500 Days of Summer ini sangat mahir memainkan senjata dan berkelahi.
Jika sebelumnya banyak film superhero yang mengandalkan kekuatan super ataupun gadget yang super canggih, maka film ini kebalikannya, malah menggunakan sosial media Youtube dan juga MySpace untuk mempublikasikan pahlawannya. Film ini memberi gambaran bahwa kita bisa menjadi real-superhero tanpa harus memiliki kekuatan super.  Kita hanya perlu menyadari bahwa kita mempunyai potensi dan dapat menginspirasi orang lain. Walaupun secara keseluruhan film ini sangat keren, tapi tetap saja film ini banyak mengumbar adegan kekerasan yang tak patut ditonton oleh anak kecil. Jadi, kalau kalian mengajak adik kalian menonton Kick-Ass di bioskop, pastikan kalian selalu memberikan penjelasan untuk tidak menirunya ya! :D (Carla Isati Octama - 210110080059)

Perkembangan Dunia Jurnalisme di Masa Depan

Laila Ramdhini        210110080015
Carla Isati Octama   210110080059



a.    Industri dan Aktivitas Jurnalisme di Masa Depan

Masa depan dapat diprediksi dari apa yang terjadi di masa ini, begitu pula dengan masa depan jurnalisme. Saat ini, industri dan aktivitas jurnalisme berkembang pesat, mulai dari media cetak, elektronik, hingga media online. Informasi yang disajikan selalu up to date, hal ini dikarenakan semakin canggihnya teknologi yang mempermudah para jurnalis dalam mendapatkan, mengolah, serta menyebarkan berita.
Industri jurnalisme masa depan akan lebih didominasi dengan industri media elektronik maupun media online. Media cetak memang masih memegang peranan penting, karena media inilah media paling tua dalam penyebaran informasi. Namun, karena material utama media cetak adalah kertas yang semakin sulit untuk didapatkan akibat penebangan liar, maka pemakaian kertas akan berkurang, begitu juga percetakan koran. Saat ini banyak industri media cetak yang gulung tikar akibat oplah mereka tidak dapat menutupi biaya produksi. Masa depan pun sepertinya kejadian seperti itu akan terulang kembali, hanya sedikit industri media cetak yang bertahan, banyak orang yang beralih ke e-paper.
Sebaliknya, industri media online akan berkembang pesat karena media ini sangat mudah diakses melalui gadget seperti laptop dan smartphone. Selain itu, dari segi pendapatan, media online akan jauh mengalami peningkatan dibandingkan media cetak karena pemasang iklan (advertising) lebih memilih untuk beriklan di media online. Pasalnya, iklan yang dimuat di media online menawarkan fitur yang menarik karena lebih interaktif dengan pengaksesnya dibandingkan pada media cetak.
Aktivitas jurnalisme juga akan semakin mudah dengan adanya teknologi yang berkembang pesat. Dengan adanya teknologi ini, hadirlah tren citizen journalism, dimana masyarakat dapat menyampaikan dan menyebarkan informasi melalui perantara sosial media.
Citizen journalism membawa perubahan besar, dimana masyarakat yang dulu tidak memiliki suara, sekarang suara mereka dapat didengar. Kita juga mendapatkan beberapa hal dari citizen journalism ini, keaslian informasi dari saksi mata, kontinuitas perhatian sebuah cerita, dan verifikasi melalui sumber orang banyak. Hal ini juga didukung oleh kecendrungan masyarakat yang sudah jenuh dengan professional journalism yang kurang mendengar suara mereka.
Dengan hadirnya tren tersebut juga pekerjaan penting yang biasa dilakukan wartawan, seperti mengumpulkan, menganalisis, dan menyebarkan informasi, telah mulai bermigrasi ke web dan ke tempat lain.
Di sisi lain, citizen journalism bisa menjadi bumerang ketika kita hanya mengandalkan sumber-sumber informasi aktual tanpa memperahtikan nilai-nilai berita yang lain. Tidak semua warga negara memiliki keahlian seorang jurnalis profesional, yang selama bertahun-tahun belajar tentang subyek dan sumber-sumber yang dapat dipercaya. Dalam citizen journalism, kita mungkin kehilangan konteks verifikasi, transparansi, perasaan mandiri, dan gaung besar media mainstream. Namun. Menurut Hume, mungkin untuk mengganti beberapa fungsi jurnalisme tradisional dengan sumber daya media baru, yang dapat membangun arsip online yang besar, mengumpulkan dari terus mengembangkan sumber, memvisualisasikan data dalam menangkap cara, dan terlibat penggunanya.
Hal ini tidak semua buruk, karena kita mendapatkan jurnalisme partisipatif, di mana pengguna dapat saling menanggapi dan bertukar informasi. Pengguna yang tergugah oleh berita memiliki kesempatan untuk bereaksi melalui jaringan sosial, video, blog. Hal ini dapat menciptakan ‘rasa baru' dalam pertukaran arus informasi.
Citizen journalism memang akan menjadi tren yang akan terus berkembang, namun professional journalism tetap saja diperlukan di dunia jurnalisme. Proffesional journalism diperlukan untuk menjaga keaktualitasan serta verifikasi data yang berimbang. Citizen journalism memang mengandalkan sisi keaktualitasan, tetapi informasi bukan hanya tentang aktual, masih banyak nilai berita lainnya yang harus ada agar berita tersebut informatif sekaligus menarik, dan inilah yang dilakukan oleh professional journalism.
Jika citizen journalism ini terus berkembang, khususnya melalui media online, maka kehadiran media konvensional seperti media cetak akan ‘tersingkirkan’ secara perlahan. Maka, akan lebih ideal jika  professional journalism dan citizen journalism dapat berjalan seiringan agar dapat saling mengontrol dan melengkapi.


b.    Peran Sosial Media terhadap Penyebaran Informasi dan Aktivitas Jurnalisme

Seiring dengan perkembangan teknologi, khususnya di bidang komunikasi, semakin memudahkan jurnalis dalam menjalankan tugas jurnalistiknya. Berbagai macam sosial media yang ada saat ini, seperti facebook, twitter, skype, yahoo messenger, youtube, dan lainnya tidak hanya berperan sebagai wadah individu untuk bersosialisasi dengan individu lainnya di dunia maya, namun peran sosial media ini lebih dari itu. Dengan berbagai fitur yang ada, semua itu dapat dimanfaatkan dalam pencarian, pengumpulan, pengolahan, serta penyebaran informasi. Semua aplikasi sosial media tersebut berada dalam satu laptop yang dapat diakses oleh jurnalis dimana saja dan kapan saja, hal ini adalah kemudahan yang sangat berarti bagi dunia jurnalisme, asalkan jurnalis tahu dengan benar jenis aplikasi apa yang akan digunakan untuk menghasilkan sebuah berita.
Mengapa sosial media ini akan sangat berperan dalam dunia jurnalisme? Seperti yang kita ketahui, internet membuat kita memiliki berbagai akses kemana saja ke seluruh penjuru dunia. Akses ini dapat kita manfaatkan untuk mencari informasi, namun tidak semua informasi dapat kita pergunakan. Inilah peran pertama dari sosial media, seperti facebook dan twitter, yang memfilter berbagai informasi yang ada di web.
Contohnya penggunaan hashtag pada twitter. Dengan pemfilteran ini, jurnalis dapat ,mencari topik yang ia inginkan dan mengembangkan  informasi yang kita dapatkan. Contohnya adalah Aaron Lazenby, DJ Pirate Cat Radio, yang menscanning di twitter suatu malam dengan trending topic #iranelection. Betapa terkejutnya ia mendapatkan berbagai informasi tentang pemilihan Iran dari twitter orang-orang Iran, dan semalaman ia membaca semua info di subject hashtag. Keesokan harinya, ia bertemu dengan reporter pemenang Pulitzer yang sama sekali tidak ‘ngeh’ dengan apa yang terjadi di Iran, berita protes tersebut tidak diliput oleh berita mainstream. Lazenby, melihat kesempatan untuk memberitakan berita ini di acara radionya. Ia mengontak salah satu akun twitter sumbernya, yang bersedia untuk diwawancara melalui skype untuk acara radio Lazenby.
Dari contoh kasus diatas, dapat terlihat bahwa melalui sosial media seperti twitter, jurnalis dapat selalu memantau berbagai hal yang menjadi ide topik yang dapat menjadi informasi penting. Seperti kutipan Brain Dresher, manager of social media and digital partnerships at USA TODAY, “I think the most vital [aspect of the] tool is the engagement with the audience. To not participate in conversations that are taking place or to avoid monitoring trends is going to result in lost opportunities. [By keeping up with Twitter], journalists are able to take a trend they first spot on Twitter and the real-time Internet and continue to develop it in more detail.”  Menurut Dresher, amat penting untuk memiliki keterikatan dengan khalayak, jurnalis dapat memantau topik yang sedang hangat dibahas oleh khalayak.
Selain itu, dengan sosial media pun jurnalis pun dapat melakukan wawancara telpon kepada narasumber tanpa harus takut dengan pulsa yang membengkak karena kecanggihan teknologi skype.
Salah satu elemen penting dari berita adalah pernyataan dari narasumber. Dengan kehadiran sosial media, maka semakin mempermudah jurnalis dalam mencari narasumber yang tepat dan menghubunginya. Dengan bantuan facebook dan twitter, dimana penggunanya mencapai 400 juta orang, pengguna dapat dicari berdasarkan klasifikasi nama, umur, pekerjaan, network, dan sebagainya. Dalam hal ini, facebook bagaikan buku telepon virtual modern, dengan foto dan biografi.
Selain itu, dengan adanya sosial media tentu saja penyebaran informasi juga akan semakin mudah. Sekarang ini, masyarakat cenderung mengetahui sebuah informasi dari akun jejaring sosial mereka. Hal ini juga didukung oleh tren citizen journalism, dimana setiap orang bebas untuk mengabarkan informasi yang mereka ketahui tanpa perlu untuk menjadi wartawan. Dengan sosial media ini, suara yang tidak didengar mendapatkan kesempatan untuk didengar. Dengan sosial media, berita yang baru atau sedang terjadi bisa langsung dikabarkan tanpa harus menunggu keesokan harinya di media cetak.
Seperti pada kasus jatuhnya meteorid di Jakarta Timur. Berita paling pertama datang berasal dari sosial media seperti twitter dan facebook, dan terus berkembang menjadi topik yang hangat di bicarakan di dua jejaring sosial tersebut.
 Sosial media memegang peranan penting dalam penyebaran informasi dan aktivitas jurnalisme. Mungkin bisa saja sosial media menjadi media yang sejajar atau bahkan lebih dipercaya dibandingkan media cetak maupun elektronik karena kecepatannya mengabarkan berita serta kemudahan untuk mengaksesnya. Namun, yang paling penting adalah bagaimana kita memanfaatkan sosial media sebagai alat yang mempermudah kita mengumpulkan informasi serta menambah kekayaan informasi kita.

Magic Tooth

Laila Ramdhini (210110080015)
Carla Isati Octama (210110080059)

Teknologi komunikasi selalu berkembang dari waktu ke waktu, seiring dengan perkembangan zaman. Pada tahun 2002, dua orang ilmuwan Inggris,James Auger dan Jimmy Loizeau, menciptakan prototype gigi palsu ajaib. Gigi palsu ini merupakan piranti yang mengandung sebuah vibrator mini dan radio penerima yang dapat dipasang pada gigi buatan. Suara akan diterima pada gigi sebagai sinyal radio digital, lalu ditransfer langsung ke telinga bagian dalam melalui getaran lewat perantaraan tulang. Semua info yang masuk dapat diterima dimana saja dan kapan saja oleh pengguna gigi palsu ini, bahkan tak seorang pun dapat mendengarkannya kecuali si pemilik sendiri. Kita juga tak perlu cemas kehabisan baterai.



Dengan berkembangnya teknologi komunikasi, di era globalisasi saat ini masyarakat dituntut untuk bisa menguasai bahasa asing, minimal bahasa Inggris. Namun, tidak semua orang fasih berbicara dan mengerti bahasa asing, maka diciptakanlah teknologi yang dapat memudahkan kita untuk menerjemahkan bahasa asing. Saat ini telah banyak alat penerjemah bahasa asing, contohnya adalah Sakhr Mobile S2S Arabic Translator in I-Phone. Cara kerja alat ini sungguh mudah, pilih bahasa yang diinginkan, lalu bicara sambil menekan tombol, secara otomatis, alat penerjemah akan menerjemahkan ke bahasa yang kita inginkan, lengkap dengan tulisan dan juga audionya.



Berangkat dari dua teknologi diatas, mari kita berandai-andai, teknologi seperti apakah yang akan hadir dalam 10 tahun mendatang? Dan jawabannya adalah: Magic Tooth. Magic tooth adalah penggabungan konsep dari ponsel gigi dan mesin translator. Magic tooth terbuat dari smart microchip di dalam gigi buatan yang tidak hanya bisa digunakan untuk menelepon, tetapi juga bisa untuk menerjemahkan ucapan orang lain yang berbeda bahasa. Untuk menelepon, suara akan diterima pada gigi sebagai sinyal radio digital. Lalu ditransfer langsung ke telinga bagian dalam melalui getaran lewat perantaraan tulang. Adapun untuk menerjemahkan bahasa, komunikator dan komunikan masing-masing harus memakai Magic Tooth, lalu suara akan dihantarkan oleh sinyal radio digital yang kemudian diterjemahkan oleh smart microchip, dan ditransfer ke telinga.

Magic Tooth adalah teknologi komunikasi yang sangat membantu, kita dapat menerima telp dimana saja dan kapan saja tanpa harus mengganggu orang lain di sekitar kita, seperti contohnya di bioskop. Selain itu, alat ini juga cocok untuk politisi yang tengah berdebat dengan lawan politiknya sambil mendengarkan berbagai masukan dari penasehatnya. Ditambah lagi, mereka dapat saling mengerti bahasa masing-masing, tanpa harus menggunakan orang sebagai penterjemah bahasa.

Sumber:
http://buletin.melsa.net.id/news/ponselgigi.html

Teknologi 3D dalam Genggaman Tangan

Laila Ramdhini
210110080015


Inovasi di dalam industri telepon selular tidak pernah berhenti, ide-ide baru terus bermunculan. Kali ini Sharp, pabrik asal Jepang memperkenalkan teknologi terbaru dari mereka. Sharp memperkenalkan teknologi layar sentuh 3D tanpa kaca untuk ponsel. Sharp berharap dapat mengganti layar 2D konvensional dengan layar 3D tanpa kaca buatan mereka.

Dengan teknologi terbarunya ini Sharp berharap dapat memberikan pengalaman baru kepada pengguna ponsel dalam melihat konten 3D. Namun sayang teknologi ini memiliki satu kelemahan yakni ukuran maksimal dari layar sentuh 3D tanpa kaca ini hanya sebesar 3.4 inci.
Produksi massal dari teknologi layar sentuh 3D tanpa kaca ini rencananya akan dimulai pada bulan April 2010 ini dan diimplementasikan pertama kali pada perangkat Nintendo DS.

Pada tanggal 2 April 2010, Sharp mengadakan konferensi pers di Tokyo untuk menghadirkan teknologi ini. Sharp mengembangkan LCD touchscreen 3D menampilkan pencahayaan tertinggi yang dapat beralih di antara modus 2D dan 3D. Pengguna dapat melihat gambar 3D tanpa perlu memakai kacamata khusus.

LCD 3D ini secara signifikan meningkatkan kualitas gambar dengan mencapai kecerahan tinggi dan crosstalk rendah berkat kemajuan teknologi CG-Silicon dan optimalisasi penghalang paralaks. Kemajuan dalam teknologi CG-Silicon dua kali lipat pencahayaan (untuk 500 cd/m2, industri tertinggi) dibandingkan dengan model konvensional. Selain itu, ketebalan modul LCD ini sama dengan model konvensional 2D meskipun merupakan layar touchscreen. LCD ini juga menawarkan resolusi hingga 854 x 480 piksel, dan rasio kontras 1,000:1. Dengan layar yang dapat berupa modus potret dan lansekap.


LCD ini juga pada kemudian hari dapat diaplikasikan untuk pembuatan teknologi lain seperti televisi masa depan, kamera, perangkat mobile, dan games.

Untuk penemuan ini, Sutradara film dengan format tiga dimensi (3D) Avatar, James Cameron pun angkat bicara. "Setelah menyambangi layar bioskop dan TV, dalam kurun lima tahun ke depan, teknologi 3D akan masuk ke layar laptop dan ponsel pintar. Namun, untuk teknologi 3D di layar yang kecil, anda justru tidak membutuhkan bantuan kacamata 3D," ujar Cameron, seperti dikutip dari PC Magazine, Jumat (26/3/2010) dalam sebuah seminar di CTIA Trade, Las Vegas.

Sutradara yang filmnya bertengger di jajaran box office dengan penghasilan USD2,6 miliar ini yakin teknologi yang semakin canggih tidak akan menyulitkan para pengembang untuk membuat aplikasi berformat 3D di smartphone. Bahkan, lanjut Cameron, justru di sinilah tantangan yang menjadi pemicu teknologi tersebut hadir.



Analisis:

Teknologi diciptakan untuk memudahkan hidup manusia. Akan banyak dampak yang ditimbulkan dari munculnya teknologi-teknologi baru. Dalam hal ini, munculnya ponsel berlayar senuth 3D dari Sharp menimbulkan berbagai dampak, diantaranya:
a. Dampak ekonomi
Ditinjau dari segi ekonomi, teknologi baru ini tentu saja dapat menguntungkan produsen. Bukan hanya untuk Sharp sendiri, tapi untuk perusahaan elektronik atau mobile yang lainnya. Perusahaan lain tersebut dapat diuntungkan karena penemuan layar sentuh 3D untuk mini gadget tersebut bisa diaplikasikan ke dalam produk mereka, seperti televisi, kamera atau arcade games. Produk yang menggunakan layar 3D sangat menarik perhatian konsumen terutama pencinta film atau pecandu games.
b. Dampak politik
Jika para pelaku politik atau komunikator politik jeli dengan kehadiran teknologi terbaru ini, mereka dapat memanfaatkannya untuk kepentingan politiknya. Tentu saja jika alat ini sudah masuk ke Tanah Air dan sudah banyak masyarakat yang mengantongi ponsel 3D ini. Mari kita ambil contoh seorang calon legislatif dari parpol yang akan melakukan kampanye. Ia dapat menggunakan teknologi 3D ini untuk berkampanye. Misalnya dengan membuat video yang dapat diakses oleh ponsel 3D touchscreen tersebut. Kampanye dalam bentuk 3D lebih menarik daripada menempel poster di tiang listrik, bukan?
c. Dampak sosial
Dengan adanya teknologi 3D screen ini memungkinkan orang untuk malas berinteraksi secara langsung dengan orang lain. Teknologi canggih dan menarik ini membuat kita lebih menyukai video call dengan 3D. Selain itu, kita lebih memilih menonton film 3D sendirian daripada dengan teman, karena kita bisa menikmatinya di ruang keluarga tanpa menggunakan kacamata. Praktis namun membuat ‘autis’!
d. Dampak komunikasi
Dalam bidang komunikasi, sudah jelas teknologi ini memiliki dampak yang signifikan. Ponsel sebagaimana kita tahu merupakan alat komunikasi yang tidak asing bagi manusia. Ponsel hampir bisa digunakan untuk semua lapisan masyarakat, karena dewasa ini harga ponsel relatif terjangkau oleh semua masyarakat.
Semakin berkembangnya teknologi, ponsel pun bergeser kegunaannya dari yang hanya sebagai alat komunikasi (telepon dan pesan singkat), menjadi alat pemuas kebutuhan lain berupa hiburan, informasi, dan aktualisasi diri. Bisa kita lihat munculnya fitur dan aplikasi ponsel seperti layanan 3G, video call, akses internet, kamera resolusi tinggi, office mobile, dan sebagainya. Then, this is it! Penemuan baru 3D touchscreen menambah kelengkapan teknologi yang mendukung ‘daya tarik’ ponsel. Manfaatnya? Jelas menarik bagi mereka yang menyukai film, sinematografi, games, dan bagi yang sering menggunakan video call.

Menurut Everret M. Rogers, ada 3 jenis perubahan komunikasi setelah ditemukan teknologi, yaitu:
• Interactivity (interaktivitas)
Teknologi 3D ini membuat orang lebih mudah berinteraksi, khususnya bagi pengguna video call. Resolusi layar yang tinggi mempermudah pengiriman gambar.
• Demassified (pergeseran penggunaan)
Pergerseran ini maksudnya adalah perubahan penggunaan yang tadinya secara massal, menjadi konsumsi pribadi. Contoh mudahnya adalah untuk film 3D biasanya orang harus pergi ke bioskop, namun dengan adanya teknologi 3D screen ini, orang bisa menikmatinya bahkan di ruang pribadi.
• Asynchronous (ketidakserempakan)
Maksudnya adalah dengan adanya teknologi ini, komunikasi tidak harus terjadi serempak. Seperti contoh di atas, orang bisa menonton film sendirian di manapun dan kapanpun ia mau.



Daftar referensi:
www.okezone.com
http://www.mobile88.co.id/news/read.asp?file=/2010/4/5/20100404030813&phone=Sharp-Sharp_3D_Touchscreen
http://sharp-world.com/corporate/g_topix/3d/index.html